Materi Pendalaman Alkitab GKIN Revival

Pemabahasan Paham Inklusivisme

Pdt.Esra Alfred Soru, S,Th, M.Pdk
esra@revival.or.id

05 Juli 2015

Pada part 1 kita sudah membahas tentang paham pluralisme (lihat di sini : https://www.facebook.com/notes/esra-alfred-soru/pembahasan-paham-pluralisme/10153480089225879) di mana para pemegang paham ini beranggapan bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran yang mutlak. Karena itu tidak boleh ada satu agama pun yang boleh menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan atau menganggap agama lain salah / sesat. Ini berimplikasi pada doktrin keselamatan di mana paham ini lalu beranggapan bahwa ada keselamatan ada dalam semua agama atau semua agama dapat menyelamatkan. Dengan demikian paham pluralisme ini menolak ajaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan seperti yang dipercaya kekristenan ortodoks.

Pada part 2 ini kita akan membahas paham yang lain yakni paham in-klusivisme. Ada beberapa point yang akan kita pelajari :

I. APA YANG DIAJARKAN PAHAM INKLUSIVISME INI?

Sebagaimana sudah saya jelaskan pada pendahuluan dari part 1, munculnya paham-paham seperti pluralisme dan inklusivisme ini adalah sebagai tanggapan atas fakta keberagaman agama / kepercayaan di dunia ini yang tidak bisa dipungkiri. Maksudnya adalah kita tidak bisa memungkiri bahwa di dunia ini tidak hanya ada agama kita tetapi juga ada banyak agama / kepercayaan yang lain. Nah, persoalannya adalah bagaimana kita menilai agama-agama / kepercayaan-kepercayaan yang ada itu? Atau bagaimana kekristenan memandang agama lain itu? Jika ini dikaitkan dengan masalah keselamatan, maka pertanyaannya menjadi lebih tajam yakni apakah agama-agama lain itu juga diselamatkan ataukah mereka semua akan binasa dan masuk neraka?

Terhadap pertanyaan ini, paham pluralisme telah menegaskan bahwa pada dasarnya semua agama itu dapat menyelamatkan. Dan dengan demikian paham pluralisme ini menolak apa yang dipegang teguh oleh paham eksklusivisme bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan dengan demikian semua orang yang tidak percaya kepada Yesus akan binasa / masuk neraka. Itu berarti bahwa paham pluralisme berada di satu kutub dan langsung berkonfrontasi / bertolak belakang dengan paham eksklusivisme di kutub yang lain. 



Lalu bagaimana posisi dari paham inklusivisme? Jikalau pluralisme dan eksklusivisme berada pada kutub yang langsung bertentangan, inklusiv-isme mengambil posisi tengah di antara kedua kutub ini. 



Untuk menjelaskan ini, marilah kita simak apa yang dikatakan oleh Karl Rahner, seorang teolog Katolik asal Jerman yang dianggap sebagai bapak dari teologi inklusiv ini. Ia merumuskan pandangannya dalam 4 tesis : 

Tesis 1 : Kekristenan memahami diri sendiri sebagai agama yang mutlak, yang diperuntukkan bagi semua orang, dan yang tidak mengenali agama lain manapun sebagai memiliki kewenangan sederajat selain dari kekristenan itu sendiri. Agama yang benar dan sah bukan diciptakan oleh manusia atau datang dari penafsiran akan keberadaan manusia, melainkan datang dari penyataan diri Allah sendiri kepada manusia. Hal ini berlaku bagi semua manusia, karena kondisi ini bergantung pada inkarnasi, kematian dan kebangkitan dari sang Firman Allah yang menjadi daging. (Theological Investigations, hal. 117).


Jadi bagi Rahner, agama Kristen adalah agama yang tertinggi derajatnya. Jelas ini berbeda dengan paham pluralisme yang menganggap bahwa semua agama sama-sama benar dan sama derajatnya. 

Tesis 2 : Hingga saat Injil sunguh-sungguh masuk ke dalam situasi sejarah seseorang, agama non-Kristen juga mengandung unsur-unsur supranatural yang dibangkitkan dari anugerah yang telah diberikan kepada manusia sebagai karunia…. karena Kristus. Karena alasan ini, agama non-Kristen dapat diakui sebagai agama yang sah (walaupun dalam derajat yang berbeda) namun juga tidak menyangkali kekeliruan dan kebobrokan yang terdapat di dalamnya. (Theological Investigations, hal. 119).


Di sini Rahner mengakui bahwa agama-agama lain itu, sekalipun tidak sederajat dengan kekristenan tetapi adalah agama yang sah yang dapat menerima keselamatan dari Allah. 

Tesis 3 : Jika tesis kedua itu benar, maka kekristenan tidak hanya ber-hadapan muka  dengan anggota dari agama Kristen-extra sebagai sekedar non-Kristen tetapi sebagai seseorang yang dapat dan harus sudah siap dianggap sebagai Kristen-Anonim. Adalah keliru jika kita menganggap penyembah berhala sebagai seseorang yang belum dijamah oleh anugerah dan kebenaran Allah. (Theological Investigations, hal. 131).


Tentang tesis ketiga dari Rahner ini, Harvey D. Egan mengatakan : 

Harvey D. Egan - Rahner dengan penuh keberanian menyebut non-Kristen - bahkan seorang agnostik atau seorang ateis - sebagai Kristen-Anonim, apabila orang tersebut telah menyerahkan being-nya kepada kedalaman yang terdalam (the deepest depths). Mereka yang secara pribadi mengikuti hati nuraninya, menjalani suatu kehidupan dari iman yang menyelamatkan, iman seperti itu dimungkinkan melalui pemberian diri Allah dalam Kristus.  (“A   Rahner   Response   to   Dominus   Jesus,” http: // dlibrary.acu.edu.au / research/theology/ejournal/aejt_2/Harvey Egan.htm)


Sederhananya adalah apabila seorang beragama lain hidup dalam agamanya secara sungguh-sungguh dan senantiasa menjaga hati nuraninya, maka sesungguhnya orang itu juga Kristen. Tapi ia adalah Kristen-Anonim (Kristen tanpa nama) karena kesungguhan seperti itu hanya dimungkinkan oleh anugerah Allah dalam Kristus. 

Tesis 4 : Mutlak diperbolehkan bagi orang-orang Kristen untuk menafsir orang-orang non-Kristen sebagai kekristenan dari kelompok yang ano-nim. Karena itu orang Kristen masih terus bertindak sebagai misionaris untuk membawa dunia ke dalam satu kesadaran bahwa anugerah karunia ilahi itu telah diterima secara implisit dan tanpa disadari. Dengan keyakinan bahwa non-Kristen telah menerima anugerah yang tanpa ia sadari dan implisit, maka gereja tidak seharusnya menganggap dirinya sendiri sebagai komunitas yang eksklusif….Itu sebabnya gereja akan keluar untuk bertemu dengan non-Kristen dengan sikap seperti yang diungkapkan oleh rasul Paulus ketika ia mengatakan : “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu”. (Kis 17:23). (Theological Investigations, hal. 133-134).


Dari 4 tesis yang dipaparkan Rahner telah menetapkan dasar bagi teologia inklusivisme.

Jadi apa sesungguhnya yang diajarkan paham inklusivisme ini? Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa paham inklusivisme percaya Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan (dan dengan demikian berbeda dari paham pluralisme tapi sama dengan paham eksklusifisme). Ini terlihat dari apa yang dikatakan Clark H. Pinnock, seorang inklusivis.

Clark H. Pinnock - Kami mengakui bahwa tidak ada nama lain dari pada nama Yesus yang memiliki makna yang bersifat universal serta yang dapat memberikan hidup dan pengharapan kepada semua bangsa. (Clark H. Pinnock in Dennis L. Okholm, Timothy R. Philips (eds), Four Views on Salvation in Pluralistic World; hal. 141).

Bandingkan :

Daniel Lukcas Lukito – Mereka yang menganut pandangan ini menaruh perhatian terutama terhadap pertanyaan mengenai partisipasi dalam keselamatan kekal. Mereka mempertahankan keyakinan yang sama seperti eksklusivis bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya anak Allah yang menyediakan jalan keselamatan dan hanya melalui Dia kita dapat memperoleh hidup kekal. (Majalah Veritas : Oktober 2012, hal. 263).

Tapi selanjutnya paham ini berkata bahwa agama-agama lain juga bisa diselamatkan (dan dengan demikian berbeda dari paham eksklusivisme tapi sama dengan paham pluralisme). 

Clark H. Pinnock – Saya menunjuk kepada pandangan yang mem-benarkan atau menegakkan Kristus sebagai penyelamat manusia, juga menegaskan kehadiran keselamatan Alah dalam dunia yang lebih luas dan di dalam agama-agama lain. (A Wideness In God’s Mercy, The Finality of Jesus Christ in a World of Relegions, hal.15).
 

Clarck H. Pinnock - Kelompok inklusif percaya bahwa karena Allah hadir di dalam dunia ini (premis), maka anugerah Allah juga bekerja dengan cara tertentu di dalam semua orang, bahkan  mungkin juga di dalam wilayah kehidupan beragama (inferens)”. (Clark H. Pinnock in Dennis L. Okholm, Timothy R. Philips (eds), Four Views on Salvation in Pluralistic World, 141).


Bandingkan :

Daniel Lukcas Lukito – Namun, tidak seperti eksklusivis, mereka mau mengakui bahwa ada kemungkinan keselamatan bagi orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar dan merespons berita injil. (Majalah Veritas : Oktober 2012, hal. 263).

Tapi bagaimana bisa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan tetapi agama lain juga bisa diselamatkan? Mereka percaya bahwa sekalipun agama-agama lain itu diselamatkan tetapi Kristuslah yang menyelamatkan mereka dalam agama mereka. 

Charles B. Jones - Agama-agama lain di luar kekristenan juga dikaruniai rahmat dari Allah dan bisa diselamatkan, namun pemenuhan keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. (The View from Mars Hill: Christianity in the Landscape of World Religions, hal.98).

Paul F. Kintter - Orang-orang dari agama lain, melalui anugerah atau rahmat Kristus, diikutsertakan dalam rencana keselamatan Allah. (Pengantar Teologi Agama-Agama, hal.63)

Para inklusivis percaya bahwa Kristus tidak hanya bekerja / berkarya dalam agama Kristen tetapi juga bekerja / berkarya dalam agama-agama lain. 

Stevri I. Lumintang – Kristus bisa ada di semua agama, dan atau kristus yang ada di semua agama berpusat pada Kristus dalam agama Kristen. (Theologia Abu-Abu, hal. 215). 


Gavin D’Costa, pada waktu masih menjadi seorang inklusivis (sekarang ia sudah menjadi seorang eksklusivis) menyatakan bahwa dari 3 paham ayng ada (plusalisme, inklusivisme dan eksklusivisme), inklusivismelah paham yang terbaik. Menurutnya, kekristenan mempunyai 2 aksioma tradisional dalam persoalan keselamatan yakni :  (1) Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus saja. (2) Allah menghendaki semua orang selamat. (1 Tim 2:3-4). Nah, menurut Costa, paham eksklusivisme memegang teguh aksioma pertama tetapi mengabaikan aksioma kedua. Sedangkan paham pluralisme memegang teguh aksioma kedua dan membuang aksioma pertama. Tapi inklusivisme menyeimbangkan keduanya dan dengan demikian mampu merekonsiliasi paradigma pluralisme dan eksklusivisme. Bagi Costa, paradigma inklusivisme berisi keterbukaan terhadap agama non-Kristen sekaligus komitmen kokoh pada kekristenan. Dari semua penjelasan ini terlihat bahwa paham inklusivisme ini menempatkan Kristus di pusat agama-agama (walaupun Kristen dianggap sebagai agama terbaik) yang berbeda dengan paham pluralisme yang menempatkan Allah (“The Real”) sebagai pusatnya.   Dan selanjutnya sama seperti paham pluralisme mengajarkan bahwa “The Real” itu memancarkan kebenaran-Nya pada semua agama, inklusivisme mengajarkan bahwa Kristus juga berkarya dalam agama-agama lain dan menyelamatkan agama-agama lain. Inilah inklusivisme. Coba bandingkan doktrin semacam ini dengan kata-kata Dr. Eben Nuban Timo. Dr. Eben Nuban Timo - Roh Kudus membuat murid-murid berbicara dalam berbagai-bagai bahasa. Itu berarti Roh Kudus adalah magister bahasa. Artinya Dia menguasai berbagai bahasa di kolong langit. Isi perkataan para murid dalam bahasa-bahasa lain itu adalah perbuatan besar Allah di dalam Kristus. Itu artinya keselamatan yang Tuhan Allah kerjakan di dalam Kristus ditujukan untuk semua manusia di kolong langit. Allah menyelamatkan semua manusia di dalam Kristus. Itu sebabnya cerita tentang keselamatan mereka disampaikan dalam bahasa mereka. Kita berdosa terhadap Allah kalau menyombongkan diri dan merasa selamat sendiri. Percakapan dan berita tentang perbuatan-perbuatan besar Allah di dalam Kristus tidak hanya diberitakan dalam kosa kata Kristen. Berita yang sama juga diberitakan dalam kosa kata Muslim, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dll. Jadi adalah kesombongan dan dosa kalau kita katakan bahwa di dalam agama-agama tadi tidak ada karya keselamatan Allah di dalam Kristus, hanya karena kita tidak mengerti bahasa mereka. (Bersaksi Dalam Bahasa Lain : Renungan Tunas Dari Tanah Kering, Edisi 3/VIII/2015, Mei - Juni 2015, hal.28-29) Jelas Dr. Eben Nuban Timo lebih berpandangan inklusivisme ketimbang pluralisme.  Bandingkan pula : Pdt. Jerrison Djo Rake - Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat dunia. Keyakinan ini menyatu sebagai darah yang mengalir dalam diri orang percaya. Kalau Yesus adalah Tuhannya dunia maka Dia tidak bisa dikurung dalam gereja dan dalam teologi kristen secara sempit. Kalau klaim ini hanya dikaitkan dengan siapa yang selamat dan siapa yang tidak di akhirat, maka manusia telah keliru dalam memposisikan dirinya. Sebab persoalan keselamatan seseorang di akhirat bukan domainnya manusia untuk menentukan. Itu adalah otoritas Tuhan yang mutlak. Bagi orang kristen yang telah meyakini Yesus sebagai satu satu jalan ke sorga, peganglah itu, sebab hal itu adalah keyakinan mutlak yang tidak bisa dirubah oleh siapapun. Namun keyakinan itu tidak serta merta untuk dipaksakan kepada orang lain untuk menerimanya sesuai dengan cara pandang kita. Sebab Allah punya cara tersendiri untuk memperkenalkan dirinya kepada manusia lainnya sesuai dengan otoritasnya di luar daya jangkau akal manusia biasa. (Status Facebook Jerrison Djo Rake, tanggal 21 Juni 2015). Pdt. Jerrison Djo Rake - Apakah Yesus itu Juru Selamat dunia atau hanya untuk gereja? Kalau Yesus adalah Juru Selamat dunia maka tidak satu manusiapun yg bisa mengurung Yesus dalam gereja tertentu atau dalam pandangan teologi tertentu. Jika ada yang memaksa maka hal itu sangat naif. Sebab Yesus adalah Tuhan yang tidak bisa dikurung oleh teologi ataupun gereja tertentu apalagi oleh para pendosa seperti kita yang sok suci. (Status Facebook Jerrison Djo Rake, tanggal 28 Juni 2015). Ch. Daniel Saduk Manu - Mengapa Maria dan dua murid yang berjalan ke Emaus tidak dapat mengenal wajah Yesus? Padahal wajah itu senantiasa menghampiri mereka dalam kesehariannya. Hanya berselang beberapa hari mereka tidak melihat wajah Yesus, kok langsung tidak  mengenal Yesus? Aneh khan.. Yesus baru dikenal ketika ia telah melakukan perbuatan yang biasa ia lakukan. Dengan demikian kemisteriusan wajah Yesus hanya dapat dikenal melalui perbuatannya. Hal ini berimplikasi pada kehadiran Yesus di agama lain dengan cara dan nama yang lebih mereka kenal? Bukankah Yesus bagi kaum eksklusif dianggap sebagai Maha Kuasa? Jika Ia  Maha Kuasa, maka suatu dogma sempit tidak dapat membatasi karya Allah di luar orang Kristen. (Jujur Pada Pluralis : Koran Timor Express, 10 Oktober 2005, hal. 4) Catatan : Tulisan Ch. Daniel Saduk Manu ini disampaikan dalam rangka debat terbuka melawan saya di koran Timex tahun 2005. Sekarang, mari kita lanjutkan memahami paham inklusivisme ini dengan mengajukan 2 pertanyaan. a. Melalui apa Kristus menyelamatkan orang-orang beragama lain itu? Jikalau Kristus memang menyelamatkan orang beragama lain, lalu melalui apakah Ia melakukan hal itu? Maksud saya adalah, kalau eksklusivisme mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai respon terhadap anugerah Allah, lalu kalau Kristus akan menyelamatkan orang-orang beragama lain, Ia menyelamatkan mereka melalui apa? Paul Knitter dalam bukunya “Pengantar Teologi Agama-Agama” menjelaskan bahwa Allah memberikan rahmat melalui Kristus di dalam agama-agama lain, dalam kepercayaan dan ritual-ritual agama lain tersebut. Bandingkan ini dengan kata-kata Victor I. Tanja : Victor I. Tanja - Dalam setiap nama yang berbeda-beda dalam ber-bagai agama, Kristus itu hadir dan menyelamatkan menurut pandangan masing-masing agama. (Spiritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia, hal. 123-124). Jadi apa maksudnya? Maksudnya adalah Kristus menyelamatkan seorang Islam melalui ritual-ritual Islam. Kristus menyelamatkan seorang Budha melalui ritual-ritual Budha. Kristus menyelamatkan seorang Hindu melalui ritual-ritual Hindu, dsb. Kristus menyelamatkan seorang Merapu melalui ritual-ritual Merapu. Kristus menyelamatkan seorang Jingitiu melalui ritual-ritual Jingitiu. Jadi para penganut agama lain itu menyambut anugerah Allah melalui ketaatan mereka pada ritual-ritual agama mereka masing-masing sebagaimana yang dikatakan oleh Chris Wright ketika membahas ajaran inklusivisme ini. Chris Wright – Jadi orang bisa diselamatkan melalui kasih karunia Allah melalui Kristus, tanpa menjadi umat Kristen. Seorang Hindu yang baik dan diakui, misalnya, diselamatkan oleh Kristus melalui sakramen-sakramen hinduisme.  (Tuhan Yesus Memang Khas Unik, hal.29). b. Dalam wujud yang bagaimana Kristus hadir dalam agama lain itu?  Kalau para penganut agama lain itu diselamatkan oleh Kristus, pertanyaannya adalah apakah orang-orang beragama lain itu mengenal Yesus Kristus yang disembah / dipercaya oleh orang Kristen? Menarik bahwa para inklusivis mengatakan tidak. Bahkan orang-orang beragama lain itu bisa diselamatkan tanpa mereka pernah mendengar tentang Yesus. John Sanders – Inklusivisme menegaskan…. orang dapat menerima karunia keselamatan tanpa mengetahui si pemberi atau sifat yang tepat dari pemberian itu. (No Other Nama : An Investigation into Destiny of the Unevangelized, hal. 215). Kelihatannya, pandangan tersebut sejalan dengan pandangan C.S. Lewis yang menegaskan bahwa : C.S. Lewis - Ada orang-orang di dalam agama lain yang dipimpin oleh Allah tanpa disadarinya, yang sebenarnya memiliki persamaan dengan ajaran Kristen tanpa diketahuinya. (Mere Christianity,  hal. 176). Juga pandangan Raimundo Panikkar : Raimundo Panikkar – Tanpa disadari oleh pemeluk agama non Kristen, Kristus berada dalam agama-agama tersebut, sekaligus me-ngerjakan keselamatan. (Raimundo Panikkar dalam Togardo Siburian : Kerangka Teologi Religionum Misioner, hal. 65). Mengapa mereka bisa tidak menyadari / mengetahui kehadiran Kristus yang menyelamatkan mereka dalam agama mereka? Itu karena Kristus yang hadir dan berkarya di dalam agama lain itu hadir dan berkarya secara terselubung atau tersembunyi (Hidden Christ). Karl Rahner – Kristus adalah pemenuhan bagi semua agama non Kristen walaupun dengan cara yang terselubung. (Karl Rahner dalam Klass Runia; The Gospel and Religious, hal. 346). Raimundo Panikkar – Kristus adalah satu-satunya pengantara, tetapi bukan monopoli orang Kristen saja. Karena Ia hadir dan bekerja dalam setiap agama secara terselubung. (Unknown Christ – Kristus yang tidak dikenali). (Dialog Intra Religius, hal. 76). Apa maksudnya Kristus hadir secara terselubung? Apa maksudnya “Unknown Christ” atau Kristus yang tidak dikenali itu? Maksudnya adalah Kristus hadir dalam agama-agama lain itu bukan sebagai Yesus dari Nazaret tetapi sebagai tokoh-tokoh yang dikenali dan disembah di dalam agama lain itu. Baginya, Yesus memang adalah Kristus tetapi Kristus bukan hanya Yesus dari Nazaret. Pandangan ini senada dengan pandangan tokoh inklusiv lainnya yakni C.S. Song : C.S. Song – Inkarnasi Yesus hanyalah sebagai salah satu inkarnasi Allah, karena Allah juga berinkarnasi dalam semua agama dan kebudayaan. (Sebutkan Nama-Nama Kami, hal. 81). Bandingkan dengan kata-kata Ch. Daniel Saduk Manu yang sudah saya kutipkan sebelumnya : Ch. Daniel Saduk Manu - Hal ini berimplikasi pada kehadiran Yesus di agama lain dengan cara dan nama yang lebih mereka kenal? (Jujur Pada Pluralis : Koran Timor Express, 10 Oktober 2005, hal. 4) Karena itu dalam bukunya “Unknown Christ of Hinduism”, Panikkar mengatakan : Raimundo Panikkar – Jadi orang Hindu sesungguhnya mengakui Kristus, hanya tidak dikenal. Kristus ini merupakan misteri ilahi uang imanen (berinkarnasi) dalam sejarah dan budaya manusia. Dengan kata lain, bahwa Allah tidak hanya berinkarnasi di dalam dan melalui Yesus saja, melainkan juga berinkarnasi di dalam agama lain, seperti di dalam agama Hindu. Jadi Allah menjadi manusia tidak hanya melulu bernama Kristus, melainkan terdapat dalam setiap nama yang ada di dalam masing-masing agama. Dalam Hindu dikenal dengan nama Isvara, dalam kekristenan dikenal dengan nama Yesus dari Nazaret. (The Unknown Christ of Hinduism, hal. 122). Pendapat yang senada juga diungkapkan Gustave H. Todrank dalam bukunya “The Secular Search for a new Christ” (hal. 49-51) di mana menurutnya Yesus adalah “salah satu Kristus” atau “a Christ” bukan “the Christ”. Dalam kategori inilah Todrank menyamakan Gandhi, Albert Schweitzer, J.F. Kennedy, Matin Luther King, Mao Tse Tung sebagai “kristus-kristus” yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa semua agama sebenar-nya menyembah Kristus hanya saja mereka tidak menyadarinya dan tidak menyebutnya sebagai Kristus. Bandingkan ini dengan kata-kata Frans Zakharias dari Rote yang menulis di Facebook :    Berarti di dalam setiap agama ada Kristus. Ada Kristus yang tidak dikenali di dalam agama Hindu, ada Kristus yang tidak dikenali di dalam agama Budha, ada Kristus yang tidak dikenali di dalam agama Islam, ada Kristus yang tidak dikenali di dalam Kong Hu Chu, ada Kristus yang tidak dikenali di dalam kepercayaan Merapu, ada Kristus yang tidak dikenali di dalam kepercayaan Jingitiu, dan dalam semua agama. Inilah kepercayaan inklusivisme. Lalu apa dasar Alkitab yang mereka pakai untuk membangun teologia mereka ini? Mereka biasanya memakai ayat-ayat yang menunjukkan bahwa seluruh dunia adalah sasaran kasih Allah. Misalnya : 

  • Yoh 3:16 - Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
 Pdt. Jerrison Djo Rake – Apakah kata 'KASIH Allah akan dunia ini' dalam Yoh 3:16 menunjuk pada gereja tertentu atau orang Kristen? Sabda Tuhan sama sekali tidak menyebut gereja dan orang kristen. Hanya kitalah yang menganalogikan dan mempersempitkan kata dunia dalam ayat sabda kepada gereja dan orang kristen. Ini model tafsiran yang terlalu sempit dan dangkal. Apakah Tuhan Yesus hanya datang untuk orang kristen dan gereja tertentu. Ini cara tafsir sabda mungkin terlalu naif. (Status Facebook Jerrison Djo Rake, tanggal 29 Juni 2015). 
  • 1 Yoh 2:2 - Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
 Kata-kata “seluruh dunia” ini diartikan begitu luas hingga men-cakup agama-agama lain juga. 
  • Kis 10:34-35 – (34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
 Itu berarti bahwa orang beragama lain pun yang mengamalkan kebenaran pasti berkenan di hadapan Allah dan karenanya akan diselamatkan. 
  • 1 Tim 2:3-4 – (3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, (4) yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
 Tentang ayat ini, Karl Rahner berpendapat bahwa jika Tuhan mau supaya semua manusia diselamatkan, maka Ia akan bertindak melakukan apa saja yang perlu agar maksudnya tercapai. “Ber-tindak” dan “melakukan” berarti Tuhan menyatakan diriNya kepada semua orang. Tuhan membuat diriNya hadir. 
  • Efs 3:18 - Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus
 Karena kasih Allah dalam Kristus itu begitu lebar, panjang, tinggi dan dalam, maka itu pasti mencakup semua agama di dunia ini. 
  • Mat 20:15-16 – (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (16) Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
 Ayat ini dipakai untuk menunjukkan bahwa adalah hak Allah atau Allah bebas untuk menyelamatkan orang-orang dari agama lain sekalipun kita enggan untuk menerimanya. Pdt. Jerrison Djo Rake – Suatu hari di Sorga berkumpullah Pendeta, Paus, Sidarta Gautama, Muhammad, Petrus, Mahatma Gandhi, Paulus. Dari semua yang hadir, siapakah yang akan diusir oleh orang Kristen? (Status Facebook Jerrison Djo Rake, tanggal 30 Juni 2015). Demikianlah ajaran inklusivisme.  II. DAMPAK MISIOLOGIS DARI PAHAM INKLUSIVISME.   Kalau demikian ajaran inklusivisme, maka ada satu hal yang perlu kita tanyakan yakni bagaimana misi Kristen dalam pandangan inlusivisme? Kita tahu bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai misi untuk memberitakan Yesus Kristus kepada semua orang termasuk kepada orang-orang beragama lain (Mat 28:19-20). Tetapi kalau ternyata Allah sendiri sudah berinkarnasi menjadi Kristus-Kristus di dalam agama-agama lain itu dan dengan demikian masing-masing agama itu sudah mempunyai Kristusnya sendiri-sendiri, dan Kristus itu menyelamatkan mereka dalam agama mereka, lalu untuk apa kita membawa / memperkenalkan Kristus kita yakni Yesus dari Nazaret kepada mereka? Ini menjadi persoalan yang serius bagi misiologi Kristen. Lalu bagaimana pandangan kaum inklusiv ini terhadap misi Kristen? a. Misi Kristen diartikan sebagai membangun persekutuan dengan agama lain melalui jalan dialog.  Perhatikan kata-kata para C.S Song ini : C.S. Song – Misi berarti orang-orang Kristen mencari persekutuan dengan orang-orang lain di dalam Allah. Misi berarti orang-orang Kristen membangun persekutuan dengan orang-orang lain dalam kasih Allah. (Sebutkan Nama-Nama Kami, hal. 30). Dan bandingkan dengan pandangan Victor I. Tanja yang mendefini-sikan misi Kristen sebagai : Victor I. Tanja – “…mencari dan membangun persekutuan dengan orang-orang bukan Kristen melalui memahami, melihat Allah di dalam mereka kemudian mengidentifikasikan semua itu dengan pemahaman orang Kristen. Misi bukan lagi soal proklamasi melainkan persekutuan karena semua adalah ciptaan dan keluarga Allah. (Tiada Hidup Tanpa Agama : Bunga Rampai Peranan Agama Dalam Berbagai Dinamika Kehidupan, hal. 47-48). Jadi misi Kristen hanyalah mencari persekutuan dengan orang beragama lain dan tidak lagi soal memberitakan Injil tentang Yesus Kristus kepada orang beragama lain. Misi seperti ini diwujudkan melalui jalan dialog.  b. Misi Kristen diartikan sebagai pelayanan holistik.  Menurut kaum inklusiv, misi Allah bukanlah misi yang berkenaan dengan urusan-urusan yang bersifat rohani dan kekal. Itu adalah urusan Alah. Mereka menafsirkan ulang misi dalam perspektif sosial (Social Gospel) sehingga menghasilkan konsep misi yang menekankan keselamatan manusia dalam aspek sosial. Maksudnya keselamatan itu bukanlah urusan masuk surga atau neraka melainkan apakah orang bisa cukup makan dan pakaian ? Apakah orang sudah bebas dari kemiskinan ? Apakah orang sudah mendapat pendirikan yang layak ? Kalau semua itu terpenuhi maka itulah keselamatan yang mereka maksudkan. Jadi konsep keselamatan mereka adalah konsep sosial. Simak kata-kata ini E.G. Singgih berikut ini tentang Amanat Agung dalam Mat 28:19-20. E.G. Singgih – Pada akhir Injil Matius kita mendapatkan Amanat Agung yang termasyhur itu, yang memerintahkan murid-murid supaya pergi menjadikan segala bangsa menjadi murid Tuhan, membaptiskan serta mengajarkan mereka semua yang telah diperintahkan Tuhan kepada para rasul (Matius 28: 16-20). Amanat Agung ini telah ditafsirkan sebagai perintah "mencari jiwa untuk diselamatkan". Itu bisa berarti kristenisasi, dalam arti orang dibujuk supaya meninggalkan agama yang dianut dan beralih ke agama Kristen, ….Tetapi, kalau kita membaca baik perikop ini secara khusus maupun seluruh narasi Matius, kita tidak akan mendapatkan apapun mengenai "mencari jiwa". Rupanya amanat "mencari jiwa" telah dimasukkan ke dalam teks Amanat Agung dan dijadikan teks standard untuk pekabaran Injil yang hanya tertuju pada segi yang vertikal…. Di dalam narasi Matius kita mendapatkan Khotbah di Bukit (Matius 5-7), Ringkasan Taurat (Matius 22: 37-40) dan Penghakiman Terakhir (Matius 25: 31-46). Ketiga-tiganya… berbicara mengenai apa yang harus kita perbuat baik kepada Tuhan maupun kepada manusia. Dengan kata lain, ketiga-tiganya berbicara mengenai keselamatan secara holistik. Biasanya, kita membaca Amanat Agung pada Matius 28:16-20 sebagai perintah untuk pergi, memuridkan, membaptis dan mengajar. "Pergi" itulah perintah-Nya, sedangkan "memuridkan, membaptis dan mengajar" itulah isi perintah-Nya. Tetapi, kalau Amanat Agung kita lihat sebagai puncak dari narasi Matius, maka isi dari amanat tersebut akan kita dapatkan dalam narasi Matius, yaitu antara lain dalam ketiga perikop yang telah disebutkan di atas, yang menekankan pada perbuatan holistik. …Kalau begitu, maka Amanat Agung mesti mengandung unsur pelayanan sosial sebagai bagian yang integral daripadanya. Pelayanan sosial bukanlah suatu alat atau suatu "ekstra" yang kita jalankan, sementara kita melaksanakan Amanat Agung. Pelayanan sosial sebagai bagian yang integral dari Amanat Agung akan menjadi kesaksian bagi dunia sekitar mengenai Dia yang telah mengasihi dunia dan telah mengaruniakan Putra Tunggal-Nya bagi keselamatan dunia ini. Kesaksian itu sekaligus merupakan undangan bagi dunia untuk ikut ambil bagian dalam cinta kasih ilahi. (“Hidup Kristiani Dalam Masyarakat Keagamaan yang Bersifat Majemuk” dalam “Berteologi Dalam Konteks : Pemikiran-Pemikiran Mengenai Kontekstualisasi”, hal. 253-254).  c. Misi Kristen diartikan sebagai upaya menyadarkan agama lain tentang Kristus yang ada dalam agama mereka.  Karena pada dasarnya agama lain itu sudah mempunyai Kristus sendiri-sendiri, maka misi kita bukan lagi memperkenalkan Kristus kita kepada orang beragama lain melainkan hanya menolong mereka untuk menyadari kehadiran Kristus di dalam agama mereka. Victor I. Tanja – Pekabaran Injil haruslah menjadi usaha untuk menyadarkan orang-orang beragama lain tentang hadirnya Kristus di tengah mereka, bukan mempertobatkan mereka. (Gereja dan Umat Beragama Lain, hal. 48). Dngan kata lain tidak dibutuhkan berita pertobatan bagi agama lain. Cukup bagi kita untuk menyadarkan orang beragama lain bahwa Kristus juga sudah hadir dalam agama mereka dan menyelamatkan mereka. d. Misi Kristen diartikan sebagai penemuan karya Allah dalam kebudayaan-kebudayaan. Selain di dalam agama-agama lain, kaum inklusiv percaya bahwa Alah / Kristus berkarya juga di dalam kebudayaan-kebudayaan manusia bahkan jauh sebelum misionaris-misionaris memperkenalkan agama Kristen dalam kebudayaan tersebut. Jika benar demikian maka adalah hal yang menarik dan penting untuk menemukan jejak-jejak Allah dalam berbagai kebudayaan itu. Karena itu misi bukan lagi soal memberitakan Kristus kepada etnis-etnis tertentu atau budaya-budaya tertentu tetapi pengungkapan karya Kristus dalam kebudayaan-kebudayaan itu agar orang-orang dalam kebudayaan tertentu dapat lebih mengenal Kristus yang sudah ada dan berkarya jauh sebelum mereka sadari. Inilah salah satu tujuan misi Kristen menurut kaum inklusiv dan karena itu mereka gemar menggumuli teologia kontekstualisasi daripada pemberitaan Injil bagi orang non Kristen. Dan inilah yang dilakukan Dr. Eben Nuban Timo di mana ia hendak merusmuskan Kristologi baru yang disebutnya sebagai Kristologi Made in Timor. Misalnya, ia percaya bahwa sebelum datang para misionaris barat untuk mem-perkenalkan Kristus kepada orang Timor, Allah telah lebih dulu menyatakan diri pada orang Timor melalui kain tenunannya. Dr. Eben Nuban Timo - Tidaklah berlebihan kalau kita katakan bahwa corak ragam yang dikerjakan Allah pada Gereja yang adalah kain tenun miliknya adalah corak ragam Yesus Kristus. Kristologi adalah motif yang dikerjakan oleh Allah pada kain tenun. Hal ini sejalan dengan pendapat Paulus dalam Kolose 1:15. Di situ ia katakan: “Ia [Yesus Kristus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Allah membentuk motif ini pada kain tenun milik-Nya untuk memperkenalkan kepada dunia siapa diri-Nya serta apa yang menjadi kehendak Allah sejak kekal. (Sidik Jari Allah Dalam Budaya, hal. 86). Nah dalam kain tenunan Timor ini ada satu motif yakni motif buaya. Dr. Eben percaya bahwa itu adalah salah satu bentuk penyataan Allah bagi orang Timor. Dalam buku yang sama halaman 142 ia menceritakan mitos suku Timor. Dikisahkan bahwa mitos terbentuknya Pulau Timor, sebagai berikut: “ada seekor anak buaya dalam keadaan sekarat di suatu tempat kering karena tidak tahu jalan ke laut. Seorang anak [manusia] merasa iba. Ia mengambil anak buaya itu lalu membawanya ke pantai. Pada waktu buaya itu masuk ke dalam air, laut menjadi naik sehingga tidak ada lagi daratan. Hidup anak laki-laki itu terancam. Sebagai ungkapan terima kasih, buaya itu menawarkan punggungnya kepada si anak dan berjanji akan melindungi si anak dari segala bahaya. Buaya itu menjadi makin tua. Ketika ajal mendekat, dia berenang ke suatu tempat. Ia meminta kepada anak itu dan keturunan untuk tetap tinggal di punggungnya. Mereka boleh menikmati apa saja yang tersedia di punggungnya serta di dalam tubuh sang buaya. Buaya itu kemudian mati. Bangkai tubuhnya segera berubah menjadi daratan, yakni pulau Timor yang kini didiami oleh suku meto [suku Timor]. Dr. Eben lalu berkata :  Dr. Eben Nuban Timo - Mungkin janggal untuk kita menyebut Kristus sebagai “buaya kehidupan”. Tapi apakah itu berarti kita tidak boleh memberitakan Kristus dalam bahasa dan ungkapan-ungkapan yang pada waktu dahulu nenek moyang kita berikan kepada buaya? Coba simak kisah tentang adanya pulau Timor dan kehidupan di dalamnya seperti terlukis di atas. Bukankah ceri itu setali tiga uang dengan perngorbanan Kristus bagi kita? (Sidik Jari Allah Dalam Budaya, hal. 147). Jadi bagi Dr. Eben Nuban Timo, adalah tidak berlebihan kalau kita menyebut Kristus sebagai “buaya kehidupan” karena itulah cara Kristus menyatakan diri kepada orang Timor sebelum datang para misionaris Kristen. Inilah misi bagi Dr. Eben Nuban Timo yakni mengungkapkan Allah / Kristus yang telah menyatakan diri dalam berbagai kebudayaan termasuk budaya Timor.  Demikianlah 4 pengertian misi dalam pandangan para inklusivis di mana semuanya membuang misi pemberitaan Injil yang berisi kesaksian tentang nama Yesus kepada agama dan kebudayaan yang lain. III. TANGGAPAN TERHADAP PAHAM INKLUSIVISME. Sekarang saya akan menanggapi ajaran inklusivisme ini secara Alkitabiah, dan ada beberapa hal yang akan saya angkat : a. Soal Kristus menyelamatkan agama-agama lain. Tadi sudah saya jelaskan bahwa kaum inklusiv percaya Kristuslah yang menyelamatkan orang-orang beragama lain yang bahkan tidak pernah mendengar tentang nama-Nya. Dasar pijak mereka adalah sejumlah ayat Alkitab yang menyatakan bahwa kasih Allah / penyelamatan Allah bersifat universal. Mereka mengutip ayat-ayat seperti Yoh 3:16, 1 Yoh 2:2 dan Efs 3:18 seperti yang sudah kita lihat tapi mereka gagal melihat arti sesungguhnya dari ayat-ayat itu. 1) Harus dimengerti bahwa kata “dunia” yang dipergunakan dalam ayat-ayat itu bukan untuk mengkontraskan orang Kristen dan orang non Kristen melainkan orang Yahudi dan orang non Yahudi. Kita tahu bahwa janji tentang Kristus pertama-tama diberikan kepada bangsa Yahudi. Tapi karena itu lalu orang Yahudi merasa eksklusif dan hanya mereka saja yang akan diselamatkan. Karena itu berita Alkitab datang bahwa Allah bukan hanya mengasihi dan mau menyelamatkan bangsa Yahudi tetapi juga seluruh dunia dalam artian bangsa-bangsa non Yahudi. Coba perhatikan :  
  • Efs 3:18 - Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.
 Di sini memang dikatakan bahwa kasih Allah dalam Kristus itu sangat lebar, tinggi dan dalam. Mengapa? Karena kasih ini bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga untuk orang-orang non Yahudi yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Efs 3:1 - Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah  Note : “Kamu” yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang Kristen yang bukan Yahudi. Efs 3:6 - yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.  Note : Kalimat terakhir dalam ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang non Yahudi ini adalah orang percaya / Kristen. Efs 3:8 - Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu. Jadi di sini Paulus sementara berbicara tentang orang non Yahudi yang percaya kepada Kristus. Ia lalu melanjutkan : Efs 3:18 - Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. Jadi apa artinya kasih Allah itu sangat lebar, panjang dan tinggi? Artinya kasih Allah dalam Kristus itu tidak hanya menyelamatkan orang Yahudi saja tetapi juga orang-orang non Yahudi yang percaya kepada Kristus. Nah, kalau kaum inklusiv menerapkan ayat-ayat ini bahwa Allah juga menyelamatkan agama-agama lain padahal agama-agama lain itu tidak percaya kepada Kristus seperti yang diberitakan Paulus, maka itu namanya pemerkosaan ayat. Ini eisegesis dan bukan eksegesis.   
  • 1 Yoh 2:2 - Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
 Tentu saja orang inklusiv akan menafsirkan kata “kita” dalam ayat ini sebagai orang Kristen dan “seluruh dunia” itu sebagai orang beragama lain. Tapi lagi-lagi ini pemerkosaan ayat. Pertama-tama kita perlu ketahui bahwa surat 1 Yohanes ini ditulis oleh rasul Yohanes. Dan berbeda dengan rasul Paulus yang adalah rasul bagi orang non Yahudi, Yohanes adalah rasul bagi orang Yahudi. Gal 2:9 - Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.  Karena itu surat 1 Yohanes ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi Kristen. Ini dibuktikan dengan adanya kata ‘perintah lama’ dalam suratnya yang tidak memungkinkan surat ini untuk non Yahudi, karena orang-orang non Yahudi tak mempunyai ‘perintah lama’. 1 Yoh 2:7 - Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Jadi dapat dipastikan bahwa surat 1 Yohanes ini ditujukan pada orang percaya / Kristen Yahudi. Jika demikian, sekarang perhati-kan 1 Yoh 2:2 : 1 Yoh 2:2 - Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Itu berarti bahwa “kita” yang dimaksudkan di dalam ayat ini adalah orang Kristen Yahudi sedangkan kata “seluruh dunia” menunjuk pada orang Kristen dari bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Budi Asali - Tujuan Yohanes dalam bagian ini: menghibur orang percaya pada saat mereka jatuh ke dalam dosa (1Yoh 2:1).  Jadi adalah aneh kalau ia tahu-tahu mengatakan bahwa Kristus mati untuk menebus seluruh dunia (termasuk orang non kristen / bukan pilihan). Jauh lebih cocok kalau ia berkata bahwa Kristus mati untuk semua orang pilihan / percaya. (Seri Khotbah Surat 1 Yohanes : Jilid 1, hal. 25). Jadi adalah naif kalau mengartikan “seluruh” dunia di sana sebagai agama-agama lain. Lagi-lagi itu adalah eisegesis dan bukan eksegesis.  2) Kalau kata-kata “dunia” atau “seluruh dunia” itu diartikan mencakup orang-orang beragama lain yang nota bene tidak mengenal Yesus sama sekali maka ini secara logis akan membawa kepada universalisme. Coba perhatikan Yoh 3:16 : Yoh 3:16 - Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kalau kata “dunia” di dalam ayat ini diartikan termasuk agama-agama lain, maka sekarang lihat ayat 17 nya : Yoh 3:17 - Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Berarti harus diartikan bahwa Allah mengutus Anak-Nya (Yesus) ke dalam dunia bukan untuk menghakimi semua orang (termasuk agama lain) melainkan untuk menyelamatkan semua orang termasuk agama lain. Nah, kalau semua orang (termasuk agama lain diselamatkan) maka tidak ada orang yang akan masuk neraka. Semuanya akan masuk surga. Ini universalisme. Lalu untuk apa ada neraka? Untuk apa Allah menciptakan neraka? 3) Menurut saya satu hal yang dilupakan kaum inklusiv adalah bahwa kasih Alah dalam Kristus memang mencakup seluruh dunia tetapi itu itu tidak berarti secara otomatis semua orang di dunia ini akan selamat termasuk agama-agama lain. Ada syarat yang diberikan untuk itu yakni iman / percaya. Yoh 3:16 - Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kaum inklusiv terlalu menyoroti kata-kata “begitu besar kasih Allah akan dunia ini” tetapi lupa pada kata-kata “setiap orang yang percaya kepada-Nya”. Ingat bahwa ide tentang percaya ini dilanjutkan dalam ayat-ayat selanjutnya : Yoh 3:18 - Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.  Ayat ini dengan tegas mengatakan yang tidak percaya akan dihukum.  Persoalannya adalah apakah orang-orang beragama lain itu percaya kepada Anak Allah yakni Yesus Kristus? Tidak bukan? Lalu bagaimana mereka mau diselamatkan? Mereka mungkin adalah orang-orang yang baik, tulus hati, dll. Tapi persoalannya adalah Alkitab mengajarkan manusia tidak bisa diselamatkan melalui perbuatan baik mereka. Kalau ada bangsa / agama yang begitu dekat dengan Allah dan giat untuk Allah, itu adalah bangsa / agama Yahudi. Meskipun demikian, tanpa iman kepada Kristus mereka tidak bisa diselamatkan. Rom 10:1-2 – (1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Bahwa Alkitab menunjukkan bahwa keselamatan sangat berhubung-an dengan kepercayaan kepada Yesus Kristus terlihat dari : Kis 16:31 - Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."Yoh 3:36 - Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." Yoh 6:40,47 – (40) Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (47) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang-siapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Yoh 11:25 - Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati Dan masih banyak ayat yang lain. Jadi kasih Allah memang sanggup untuk menyelamatkan semua orang di dunia dari bangsa apa saja. Tapi ada syaratnya yakni percaya. Kalau orang percaya kepada-Nya, tidak peduli dia Yahudi atau bukan, ia akan diselamatkan. Dan ini ditunjukkan secara menyolok dalam kasus Kornelius di Kis 10. Kis 10:34-35 – (34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Petrus diutus Tuhan untuk memberitakan Injil pada keluarga Kornelius dan akhirnya mereka menjadi percaya kepada Yesus dan diselamatkan. (Kis 10:44-48). Jadi adalah ngawur kalau mereka mempergunakan ayat ini sebagai dasar. Ayat ini justru meneguhkan apa yang saya katakan. Dengan pemahaman semacam ini, apakah benar tuduhan kaum inklusiv bahwa kita mengurung Kristus hanya untuk kita? Apakah Kristus tidak berkarya dalam agama lain? Tidak! Allah dan Kristus sudah pasti bekerja di dalam agama-agama lain. Tetapi Mereka bukan bekerja untuk menyelamatkan agama lain tanpa iman kepada Kristus. Pekerjaan Mereka adalah membawa orang-orang agama lain itu untuk percaya kepada Yesus. Yoh 12:32 - dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."  Kaum inklusiv juga mempergunakan 1 Tim 2:3-4 dan Mat 10:15-16. 1 Tim 2:3-4 – (3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, (4) yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Mat 20:15-16 – (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (16) Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." Tapi ini gampang untuk dijawab. Allah memang menghendaki semua orang selamat. Dan adalah hak-Nya untuk menyelamatkan siapa saja. Tapi Ia tidak mungkin melanggar ketetapan-Nya sendiri bahwa orang harus beriman dulu kepada Kristus. Tapi mungkin kaum inklusiv akan berkata orang-orang agama lain juga percaya kepada Kristus. Tapi Kristus yang ada dalam agama mereka. Jawaban saya adalah, kalau itu memang benar, mereka percaya apanya dari Kristus-Kristus itu? Alkitab bukan hanya menyuruh orang percaya kepada Kristus sekedar bahwa Dia ada. Alkitab menuntu lebih daripada itu. Rom 10:9 - Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Rom 3:25 - Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. ….” Ini berarti iman kepada Kristus harus mencakup kepercayaan bahwa Dia Tuhan dan juga percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya. Pertanyannya adalah apakah orang-orang beragama lain juga percaya Kristus seperti ini? Tentu saja tidak! Bahkan Kristus-Kristus dalam agama mereka itu tidak pernah mati dan bangkit. Lalu bagaimana mereka bisa percaya hal itu?  Jadi adalah kebodohan menggunakan ayat-ayat seperti ini untuk mendukung ajaran inklusivisme. b. Soal Kristus dalam agama-agama lain. Kaum inklusiv percaya dan mengajarkan bahwa Kristus lebih besar daripada Yesus dari Nazaret. Jadi Yesus hanya salah satu Kristus. Dan di dalam agama-agama lain ada Kristus-Kristus mereka sendiri hasil penjelmaan Allah. Ini adalah ajaran yang tolol karena Alkitab tidak pernah membicarakan inkarnasi Allah menjadi manusia sebagai suatu peristiwa yang terjadi berkali-kali. Sebenarnya apa tujuan inkarnasi? Tujuannya adalah penebusan dosa manusia melalui kematian. Gal 4:4-5 – (4) Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. (5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.Dan penebusan dosa ini terjadi melalui kematian-Nya. Mat 20:28 - sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Nah, kalau Yesus diutus untuk seluruh dunia (Yoh 3:16) maka cukup dengan satu inkarnasi Allah dalam Yesus dan tidak perlu ada inkarnasi dalam setiap agama. Jikalau inkarnasi Allah terjadi dalam tiap agama maka justru kaum inklusivlah yang secara tidak sadar mengatakan bahwa Yesus hanyalah Kristus bagi orang Kristen. Jadi merekalah yang mengurung Yesus di dalam kekristenan bukan? Selain itu kalau inkarnasi mempunyai tujuan penebusan dosa, dan itu dicapai melalui kematian dari Kristus, pertanyaan kita sekarang adalah apakah Kristus-Kristus dari agama lain itu juga mati untuk menebus pemeluk agama itu? Tidak kan? Kalau tidak, lalu untuk apa ada inkarnasi di sana? Kaum inklusiv berkata bahwa Yesus hanyalah salah satu Kristus karena masing-masing agama mempunyai Kristus sendiri-sendiri. Saya sebenarnya berpandangan bahwa ketika PB menyebut nama Kristus, yang dimaksudkan di sana jelas adalah Yesus dari Nazaret dan bukan yang lain. Tapi baiklah saya ikuti saja pemikiran mereka. Jadi sekarang kita membedakan antara Yesus dan Kristus. Dan marilah kita lihat apa kata Alkitab. Apakah Alkitab mengatakan bahwa keselamatan hanya adalah di dalam Kristus atau di dalam Yesus? Yoh 14:6 - Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Ternyata ayat ini diucapkan oleh Yesus (Kristusnya Kristen) dan bukan Kristus agama lain. Kis 4:10-12 – (10) maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati -- bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. (11) Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan -- yaitu kamu sendiri --, namun ia telah menjadi batu penjuru. (12) Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Jelas bahwa yang dibicarakan Petrus bukanlah Kristus secara umum tetapi mengacu kepada Kristusnya Kristen yakni Yesus dari Nazaret. Jikalau di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan yang olehnya manusia bisa diselamatkan selain dari dalam nama Yesus dari Nazaret (Kristusnya Kristen), maka itu berarti bahwa keselamatan tidak ada di dalam Kristus-Kristus yang lain selain di dalam Kristusnya Kristen yakni Yesus dari Nazaret. Selain itu perhatikan bahwa kata-kata Petrus itu ditujukan pada orang-orang yang sudah beragama yakni agama Yahudi. Berarti Yesus sebagai satu-satunya penyelamat berlaku bagi semua agama dan bukan hanya agama Kristen. Bagaimana mau diartikan bahwa Yesus hanyalah Kristus bagi agama Kristen sedangkan agama Kristen sendiri baru muncul setelah Yesus naik ke sorga? Dari semua ini terlihat bahwa teori inklusivisme ini adalah teori yang konyol dan bukan ajaran Alkitab. Kalau benar ada Kristus-Kristus dalam berbagai agama, maka itu adalah Kristus-Kristus palsu. Mat 24:24 - Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul …. mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. TL - Karena beberapa Kristus palsu dan nabi palsu akan terbit, … supaya menyesatkan, jikalau boleh, orang yang terpilih itu juga. BIS - Sebab akan muncul penyelamat-penyelamat palsu dan nabi-nabi palsu. …. untuk menipu, kalau mungkin, umat Allah juga. d. Soal Misi Kristen. Tadi kita sudah melihat bahwa misi dalam pandangan inklusivisme akhirnya hanya sekedar membangun persekutuan dengan agama lain, pelayanan holistik, menolong agama lain untuk menyadari kehadiran Kristus dalam agama mereka dan mengungkapkan karya Allah dalam kebudayaan manusia. Tapi jelas bahwa ini adalah konsep misi yang telah menyimpang : 1) Alkitab tidak pernah membicarakan persekutuan dengan agama lain sebagai misi Kristen seperti yang dikatakan C.S Song dan Victor Tanja. Bahkan Alkitab berkata begini : 2 Kor 6:14-16 – (14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini:  "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka  dan hidup di tengah-tengah mereka,  dan Aku akan menjadi Allah mereka,  dan mereka akan menjadi umat-Ku.   2) Alkitab tidak membuang berita pertobatan dari misi Kristen sebagaimana yang dikatakan Victor Tanja. Malah Alkitab menekankan itu. Kis 2:38 - Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.  3) Alkitab tidak pernah membicarakan misi Kristen sebagai sebuah pelayanan holistik / pelayanan sosial (memberantas kemiskinan dan kebodohan) sebagaimana yang dipercaya E.G. Singgih. Pelayanan holistik memang penting, tetapi itu bukan tujuan misi Kristen. Misi yang diperintahkan Yesus selalu berkaitan dengan pemberitaan nama Yesus yang berimplikasi pada pengampunan dosa dan keselamatan akhirat. Luk 24:47 - dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.  Kis 16:31 - Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."  4) Juga Alkitab tidak pernah membicarakan misi Kristen sebagai upaya pencarian jejak-jejak Allah dalam kebudayaan sebagaimana yang dikerjakan Eben Nuban Timo. Alkitab malah memerintahkan orang percaya untuk memberitakan nama Yesus kepada bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa serta kebudayaan. Kis 1:8 - Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  Mat 28:19-20 – (19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  Itu berarti misiologi kaum inklusiv adalah misiologi yang menyimpang dari misiologi Alkitab. Menurut saya kata-kata Stevri Lumintang yang ditujukan pada kaum pluralis juga cocok untuk kaum inklusiv ini. Stevri Lumintang - ‘Dalam hal ini, kaum pluralis sedang menawarkan kepada gereja-gereja untuk membuang panggilan utama gereja yakni panggilan untuk memberitakan Injil kepada semua manusia. Karena Injil adalah satu-satunya kabar baik, kabar keselamatan untuk semua orang. Bahaya Teologi Abu-Abu (Pluralisme) ialah penghancuran kekristenan sampai pada akar-akarnya. (Teologia Abu-Abu ; hal. 678-679 ). Kesimpulan : Dari semua yang sudah saya sampaikan ini jelas bahwa ajaran inklusivisme ini adalah ajaran yang menyimpang dari ajaran Alkitab dan karena penyim-pangannya menyangkut doktrin dasar Kristen maka dapat dikatakan bahwa ajaran inklusivisme ini, sama seperti ajaran pluralisme adalah ajaran sesat. Dan semua pendeta, guru agama, dosen teologia, penulis buku, yang mengajarkan doktrin inklusivisme ini harus dianggap sebagai penyesat, nabi palsu / guru palsu. Kita harus sadar bahwa inklusivisme ini jauh lebih berbahaya daripada pluralisme karena lebih bersifat sinkritisme (pengg-abungan ajaran Alkitab dan ajaran non Alkitab). Jadi kalau pluralisme itu hitam, inklusivisme ini abu-abu muda, nyaris putih. Jadi lebih mudah untuk tidak tertipu dengan yang hitam daripada yang abu-abu muda ini. Karena itu, sekali lagi, ingatlah kata-kata Petrus : 2 Pet 2:1-2 – (1) Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. (2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Berhati-hatilah supaya saudara tidak termasuk di dalamnya.  - AMIN -

Download Slide