Berita

Menantang Hukuman Mati Meriam Ibrahim

11 Oktober 2015

Meriam Ibrahim, seorang ibu berkebangsaan Sudan dijatuhi hukuman mati karena murtad, menantang putusan pengadilan dengan mengklaim bahwa telah terjadi kesalahan prosedural dalam kasusnya. Dia juga menjelaskan bahwa ia dibesarkan sebagai seorang Kristen, dan tidak pernah pindah keyakinan.Pengacara Ibrahim, Eman Abdul-Rahim, menunjukkan bahwa ibu yang dipenjara itu akan menantang pengadilan, seperti yang dikabarkan oleh kantor berita The Associated Press.Ibrahim dijatuhi hukuman 100 cambukan dan kematian dikarenakan pindah keyakinan dari Islam dan menikah dengan seorang pria Kristen, yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang ketat di negara itu yang mendikte anak-anak harus mengikuti agama ayah mereka. Sang ibu Meriam menjelaskan, bahwa ayahnya meninggalkan mereka ketika ia masih muda, jadi dia dibesarkan sebagai seorang Kristen Ortodoks Ethiopia oleh ibu nya.Saat ini Meriam dipenjarakan bersama dengan anaknya yang masih berumur 18 bulan dan seorang bayi yang baru lahir, sementara suaminya, Daniel Wani, terus berjuang untuk selalu mengajukan petisi untuk pembebasan istrinya. The American Center for Law and Justice dan organisasi lain telah menunjukkan bahwa Daniel Wani adalah seorang warga negara Amerika, anak-anak Ibrahim juga Amerika – dengan demikian anak-anak mereka tidak boleh di penjarakan di negara asing.Meskipun Ibrahim diberi tiga hari untuk menarik kembali imannya untuk menyelamatkan hidupnya, dia menolak untuk melakukannya.Russell D. Moore, presiden Komisi Etika & Kebebasan Beragama Southern Baptist Convention, memanggilnya “putri sejati Sarah” untuk keberanian dan keyakinan yang telah ditampilkannya.Beberapa petisi online telah menyerukan pembebasannya, salah satunya di website resmi Gedung Putih yang mendesak Presiden Barack Obama untuk terlibat.“Kami mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan dalam kasus Dr Meriam Ibrahim,seorang ibu Sudan yang dengan balita dan bayi yang baru lahir (dokumentasi yang tertunda adalah seorang warga negara Amerika) yang mendekam di dalam penjara di Khartoum,” petisi ini dimulai pada sejak tanggal 28 Mei 2014.“Kami mendesak Anda untuk menekan pemerintah Sudan untuk melepaskan Meriam dan anak-anaknya sehingga ia dapat bebas dari eksekusi kematian supaya akan dapat bergabung kembali dengan suaminya di Amerika Serikat. Tolong berikan garansi “safe haven”, di mana ia bisa mencari suaka di Amerika Serikat .”Pada Jumat pagi, permohonan telah mendekati 40.000 tanda tangan tetapi membutuhkan 100.000 sampai dengan 27 Juni untuk bisa meminta tanggapan resmi dari pemerintahan Obama.