Ringkasan Kotbah

Pemabahasan Paham Pluralisme

Pdt.Esra Alfred Soru, S,Th, M.Pdk
esra@revival.or.id

28 Juni 2015

Bagikan ke Mediasosial melalui :

Beberapa waktu lalu di Facebook, saya mengangkat tulisan Dr. Eben Nuban Timo yang dimuat dalam buku renungan harian Tunas Dari tanah Kering untuk didiskusikan. Berikut ini adalah kata-kata Dr. Eben Nuban Timo yang saya postingkan di Facebook :
 

Eben Nuban Timo - Roh Kudus membuat murid-murid berbicara dalam berbagai-bagai bahasa. Itu berarti Roh Kudus adalah magister bahasa. Artinya Dia menguasai berbagai bahasa di kolong langit. Isi perkataan para murid dalam bahasa-bahasa lain itu adalah perbuatan besar Allah di dalam Kristus. Itu artinya keselamatan yang Tuhan Allah kerjakan di dalam Kristus ditujukan untuk semua manusia di kolong langit. Allah menyelamatkan semua manusia di dalam Kristus. Itu sebabnya cerita tentang keselamatan mereka disampaikan dalam bahasa mereka. Kita berdosa terhadap Allah kalau menyombongkan diri dan merasa selamat sendiri. Percakapan dan berita tentang perbuatan-perbuatan besar Allah di dalam Kristus tidak hanya diberitakan dalam kosa kata Kristen. Berita yang sama juga diberitakan dalam kosa kata Muslim, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dll. Jadi adalah kesombongan dan dosa kalau kita katakan bahwa di dalam agama-agama tadi tidak ada karya keselamatan Allah di dalam Kristus, hanya karena kita tidak mengerti bahasa mereka. (Bersaksi Dalam Bahasa Lain : Renungan Tunas Dari Tanah Kering, Edisi 3/VIII/2015, Mei - Juni 2015, hal.28-29)

Ternyata apa yang saya angkat ini memancing diskusi yang panjang dan juga panas baik dari pihak yang menentang pandangan Dr. Eben Nuban Timo maupun pihak yang membelanya termasuk sejum-lah pendeta. Dalam kenyataannya beberapa pendeta ini juga mengemukakan paham yang boleh dibilang sama dengan yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo.



Pdt. Jerrison Djo Rake - Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat dunia. Keyakinan ini menyatu sebagai darah yang mengalir dalam diri orang percaya. Kalau Yesus adalah Tuhannya dunia maka Dia tidak bisa dikurung dalam gereja dan dalam teologi kristen secara sempit. Kalau klaim ini hanya dikaitkan dengan siapa yang selamat dan siapa yang tidak di akhirat, maka manusia telah keliru dalam memposisikan dirinya. Sebab persoalan keselamatan seseorang di akhirat bukan domainnya manusia untuk menentukan. Itu adalah otoritas Tuhan yang mutlak. Bagi orang kristen yang telah meyakini Yesus sebagai satu satu jalan ke sorga, peganglah itu, sebab hal itu adalah keyakinan mutlak yang tidak bisa dirubah oleh siapapun. Namun keyakinan itu tidak serta merta untuk dipaksakan kepada orang lain untuk menerimanya sesuai dengan cara pandang kita. Sebab Allah punya cara tersendiri untuk memperkenalkan dirinya kepada manusia lainnya sesuai dengan otoritasnya di luar daya jangkau akal manusia biasa. (Status Facebook Jerrison Djo Rake, tanggal 21 Juni 2015).

Seorang teman yang bernama Christian sempat berbincang-bincang de-ngan seorang pendeta yang bertugas di RSU. W.Z. Johannes tentang diskusi di Facebook itu. Berikut ini cerita dari si Christian :

Dari semuanya ini saya sadar bahwa rupanya ajaran tentang Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan hanya orang yang percaya kepada-Nya yang dapat diselamatkan tidak lagi dipegang teguh oleh banyak pen-deta. Jikalau pendeta-pendeta sudah mempunyai pandangan yang menyim-pang seperti ini, sangat mungkin jemaat-jemaat juga akan terseret ke dalam ajaran sesat yang mereka sebarkan. Untuk itulah saya terpanggil untuk membahas pandangan-pandangan ini agar jemaat diajar, dibekali / dilengkapi untuk menghadapi ajaran-ajaran yang bengkok ini (bukan karena saya sakit hati kepada orang tertentu dalam hal ini Dr. Eben Nuban Timo seperti yang mereka tuduhkan).  Pembahasan ini sangat penting dan berguna bukan saja untuk jemaat GKIN Revival tetapi juga untuk anak-anak Tuhan yang tersebar di dalam banyak gereja terutama gereja-gereja yang pendetanya berpaham sesat seperti ini. Jemaat adalah milik Tuhan (bukan milik pendeta / organisasi apapun) dan saya adalah hamba Tuhan, maka saya mempunyai tanggung jawab untuk menyelamatkan jemaat Tuhan dari berbagai ajaran sesat yang ada, tidak peduli mereka ada di gereja manapun. Memang ada pendeta yang terlalu picik sehingga melarang jemaatnya untuk hadir di GKIN Revival seperti yang diceritakan oleh adik saya Yutmen via status Facebooknya :

Tapi saya tidak peduli yang model seperti ini. Menurut saya pendeta seperti ini sama sekali mengamalkan apa yang dia hafal setiap minggu dari Penga-kuan Iman Rasuli : “Gereja yang kudus dan am”.  Gereja adalah milik Tuhan, jemaat adalah milik Tuhan, saya hamba Tuhan, dan saya bertanggung jawab menyela-matkan jemaat Tuhan yang ada di gereja mana pun dari ajaran-ajaran yang menyesatkan.


***********

Sebenarnya pandangan-pandangan seperti yang sudah saya kutipkan itu bukanlah pandangan yang baru. Mungkin beberapa pandangan memang baru muncul beberapa tahun terakhir ini tapi sesungguhnnya akar pemahaman semacam ini telah muncul sekitar 30-an tahun yang lalu. Latar belakang yang memicu munculnya pandangan-pandangan semacam ini adalah keprihatinan akan banyaknya konflik antar agama. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dalam dunia yang sangat majemuk termasuk kemajemukan agama dan seringkali agama yang satu menindas agama yang lain sehingga muncul banyak kekerasan atas nama agama. Semuanya jelas membawa penderitaan bagi umat manusia. Untuk itu perlu ada upaya agar agama-agama yang berbeda ini bisa hidup damai, saling menerima dan penuh toleransi satu terhadap yang lain. Dan upaya itu harus dimulai dengan kesediaan dari agama-agama itu untuk berdialog dan membangun kebersamaan. Sejumlah buku ditulis dalam rangka membangun dialog antar agama ini seperti buku “Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia” yang disusun oleh Tim Balitbang PGI, “Masihkah Benih Tersimpan” dengan editornya Ioanes Rakhmat, “Satu Bumi Banyak Agama” karangan Paul Knitter, dll. Tapi dalam perkembangan selanjutnya semangat dialog antar agama ini masih menghadapi satu kendala besar yakni klaim-klaim eksklusif dari masing-masing agama yang secara otomatis menganggap agamanya yang paling benar.

Stevri I. Lumintang – Pengalaman hidup bersama dalam keberagaman agama, bukanlah suatu fakta yang mudah dihadapi. Oleh karena masing-masing agama memiliki klaim keabsolutan dan kefinalitas agamanya masing-masing. Selain itu, masing-masing agama juga memiliki misi penyebarluasan agamanya. Fakta ini, bukan tidak mungkin, bahkan sangat rawan menimbulkan konflik antar agama yang mengancam keutuhan suatu negara. (Theologia Abu-Abu, hal. 63-64). 

Misalnya, jika agama Islam menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan semua yang bukan Islam adalah kafir dan akan masuk neraka jahanam, sedangkan Kristen juga percaya bahwa semua yang tidak percaya kepada Yesus Kristus akan masuk neraka, bagaimana mungkin kedua agama ini bisa benar-benar hidup dalam kedamaian dan tidak berbentrokan? Ini mustahil! Jadi apakah yang menyebabkan terjadinya bentrokan antar agama? Apakah yang menyebabkan perdamaian antar agama sukar diwujudkan? Apakah yang menyebab dialog antar agama tidak terlalu memberikan hasil yang signifikan? Penyebabnya adalah klaim eksklusif dari agama-agama itu. Sepanjang masing-masing agama menganggap dirinya benar dan yang lain salah / sesat, maka perdamaian yang sesungguhnya tidak akan pernah terjadi. Untuk itu maka masing-masing agama ini perlu memikirkan kembali klaim-klaim eksklusifnya dan doktrinnya terkait dengan agama lain, termasuk agama Kristen. Dengan kata lain perlu adanya penyusunan kembali doktrin agama dalam rangka membangun hubungan dengan agama lain. 

Stevri I. Lumintang – Tuntutan kemajemukan inilah yang membuat para pemimpin agama menyusun ulang posisi doktrinalnya, untuk menjawab tuntutan dan tantangan pluralitas agama. Hal inilah yang menstimulasi bangkitnya pluralisme dalam teologia masing-masing agama, termasuk Kristen.(Theologia Abu-Abu, hal. 64).

Kekristenan telah hidup ribuan tahun dengan klaim-klaim eksklusifnya seperti Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan, manusia tidak mungkin sampai kepada Allah tanpa melalui Yesus, mengenal Yesus berarti mengenal Allah yang sejati, Yesus sendiri adalah manusia jelmaan Allah, tanpa iman kepada Yesus semua orang akan masuk neraka, dll.  Nah, kalau orang Kristen tetap berpegang pada klaim-klaim eksklusif seperti ini, sudah pasti toleransi dan penerimaan terhadap agama lain menjadi sesuatu yang mustahil. Ini membuat Kristen menjadi agama yang arogan. Karena itulah teologia Kristen yang bersifat eksklusif ini harus dipikirkan kembali, kalau perlu digugat dan dirombak serta dirumuskan ulang menjadi teologia yang lebih ramah terhadap agama lain. Dan inilah yang dilakukan oleh sejumlah teolog sehingga lahirlah buku-buku seperti ini : Jadi kelihatannya keunikan agama Kristen hanya dianggap sebagai mitos saja dan klaim-klaim eksklusif dari Kristen dianggap sebagai suatu tindakan arogan dan karena itu perlu digugat. 

Nah, kalau eksklusifisme Kristen ini dibuang dan ada penyusunan kembali teologia Kristen dalam hubungan dengan agama-agama lain dalam konteks keselamatan, lalu jadinya bagaimana? Ternyata teologia baru yang dihasilkan itu juga bervariasi. Para teolog yang terjun dalam bidang ini (seperti Hans Kung, Paul Knitter, David Bosh) membuat pengelompokan-pengelompokan sendiri tapi saya lebih setuju dengan pengelompokan yang dibuat oleh Ken Gnanakan di mana di luar paham ekskusifisme Kristen, ia hanya membagi pemahaman ini menjadi 2 paham yakni Pluralisme dan Inklusivisme. Nah, dalam serial khotbah saya ini saya akan membahas 2 paham ini yakni paham Pluarlisme dan paham Inklusivisme dan akan saya tutup dengan paham meneguhkan paham eksklusivisme. Karena itu hari ini saya akan membahas paham yang pertama yakni paham Pluralisme.

Terkait dengan paham Pluralisme ini, ada beberapa hal yang akan saya bahas : 

 
I. APA YANG DIAJARKAN PAHAM PLURALISME INI?
 

Paham pluralisme agama ini mempunyai anggapan dasar bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah dan karena itu semua kebenaran yang ada termasuk kebenaran-kebenaran agama bersifat relatif. Maksudnya adalah apa yang kita anggap benar belum tentu benar bagi orang lain. Dan apa yang kita anggap salah belum tentu salah bagi orang lain. Kebenaran itu relatif, bergantung pada siapa, kapan dan di mana. Saya berikan contoh. Di Afrika ada sebuah kampung yang salah satu bentuk penghormatan kepada tamu adalah dengan mengizinkan si isteri untuk tidur dengan sang tamu. Tentu saja bagi kita saat ini, itu sesuatu yang salah. Tapi bagi mereka itu sesuatu yang benar. Jadi kebenaran tergantung tempat. Contoh lain, dulu sebelum zaman Copernicus anggapan bahwa bumi merupakan pusat alam semeseta (geosentris) dianggap sebagai kebenaran. Tapi pada zaman sekarang itu justru adalah kesalahan. Sebaliknya pada zaman sebelum Copernicus, anggapan bahwa mataharilah yang menjadi pusat alam semesta (heliosentris) adalah sebuah kesalahan. Tetapi pada zaman sekarang itu justru adalah kebenaran. Jadi kebenaran tergantung kapan itu terjadi.  Nah, karena kebenaran bersifat relatif maka tidak boleh ada satu orang pun atau satu agama pun termasuk Kristen yang boleh mengklaim diri sebagai yang paling benar.


Nicolas J. Woly - Tidak ada satu pun yang mutlak di bawah kolong langit ini selain Allah Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang…. Maka iman yang kita anut, janganlah kita paksakan untuk dianut oleh yang beragama lain. (Ada Apa Dengannya?; Opini Timex, 15 Januari 2005; hal. 4).
 

Nicolas J. Woly -  ‘...yang pasti adalah bahwa Yang Mutlak hanyalah Allah dan tidak ada yang lain termasuk agama dan iman kita. Yang absolut hanyalah kehendak Allah tanpa ada yang berhak untuk menggantikan-Nya’. (Jangan Mau Menang Sendiri Dong!!!Opini Timex, 31 Januari 2005; hal. 4).


John Hick, salah satu tokoh penting dalam aliran pluralisme ini membangun sebuah teori yang dikenal sebagai revolusi Copernicus. Sama seperti Copernicus menyatakan bahwa matahari adalah pusat dari alam semesta, demikian pula Allah (yang disebutnya sebagai “The Real” atau “The Ultimate”) sebagai pusat dari semua agama. Sebagai pusat dari semua agama maka “The Real” itu memancarkan kebenaran-Nya kepada semua agama dan karenanya masing-masing agama hanya menerima percikan-percikan kebenaran yang tidak lengkap sehingga adalah naif kalau sebuah agama mengklaim diri paling benar dan agama yang lain salah / sesat. Kebenaran itu milik bersama dari semua agama.

Gavin D'Costa - Pluralisme agama menyatakan bahwa kebenaran adalah milik bersama. Semua agama punya inti atau esensi yang sama. Esensi yang sama ini bisa diidentifikasi secara historis di dalam tradisi-tradisi mistis agama-agama dunia. (Other Faiths and Christianity dalam The Blackwell Encyclopedia of Modern Christian Thought; Oxford: Black-well, 1993, hal. 412). 

Suryadi Wijaya - Pluralisme ini menolak adanya satu agama atau pandangan umum mana pun yang menyatakan hanya dirinya yang benar. Pluralisme ini berpendapat bahwa semua agama dan ajaran harus dianggap sama benarnya. …. "apa pun yang menyatakan bahwa ideologi atau klaim religius tertentu itu lebih benar dari yang lain adalah jelas-jelas salah.… Tidak ada agama yang berhak menyatakan dirinya baik atau benar sedangkan yang lain salah." …” (Christianity Confronts Pluralism; hal.3).
 

Eben Nuban Timo - Saya menjadi lebih malu lagi jika berpendirian bahwa ada agama tertentu paling sempurna sedangkan agama lain tidak. Menganggap diri sebagai yang paling benar, paling sempurna dan paling dekat dengan Allah adalah bahaya lain yang datang dari agama. Agama Kristen mengklaim diri sebagai satu-satunya distributor keselamatan berdasarkan Johanes 14:6. Salus extra ecclesian non est (di luar gereja tidak ada keselamatan). Ini motto yang masih laku di kalangan orang Kristen. Benarkah anggapan bahwa agama yang saya anut adalah yang paling benar sedangkan agama sesama saya adalah superstition? Bagi saya berpikir seperti itu sama dengan menyembah berhala karena ada upaya menyamakan agama dengan Allah, menyetarakan nafsu manusia dengan Firman Allah…. Kenyataan pluralitas agama mengandaikan adanya keragaman aspek kebenaran yang dipahami dan diterima manusia. Jika begitu sikap beragama yang benar bukanlah menepuk dada dan berkata: "Kamilah yang paling benar dan akan diselamatkan", melainkan sikap dialog. Pemeluk agama yang satu harus bersedia mendengarkan pendapat pemeluk agama yang lain tentang pokok yang mereka gumuli bersama. (Dua Muka Dari Agama;  Pos Kupang, 29 Nov 2002, hal.4)


Dalam suatu seminar yang dilaksanakan di jemaat “Baith-El” Nunhila (tanggal 11 Maret 2005), di mana saya menjadi salah satu pembicara di samping Dr. Eben Nuban Timo,  dalam penjelasannya Dr. Eben Nuban Timo membuktikan adanya kebenaran dalam agama lain dengan mengatakan ilustrasi sebagai berikut :

Eben Nuban Timo - Allah itu seperti udara. Andaikata saya mengambil 5 balon dan menuliskan nama pada balon-balon itu : balon Kristen, balon Islam, balon Hindu dan balon Budha selanjutnya saya mengisi balon-balon itu dengan udara. Apakah udara hanya ada di balon Kristen saja? Udara bukan hanya ada di dalam balon Kristen tetapi juga ada di balon-balon yang lain’  (Disampaikan dalam acara Seminar di jemaat “Baith-El” Nunhila tanggal 11 Maret 2005).

Jikalau konsep seperti ini dibawa pada persoalan keselamatan maka paham pluralisme ini mengajarkan bahwa ada keselamatan dalam setiap agama. 

Suryadi Wijaya – Pluralisme agama mengajarkan bahwa hakikat dan keselamatan bukanlah monopoli satu agama tertentu, melainkan semua agama juga menyimpan hakikat yang mutlak dan sangat agung. Maka dari itu, menjalankan program masing-masing agama bisa menjadi sumber keselamatan’. (Christianity Confronts Pluralism; hal.1).


Stevri I. Lumintang – Semua agama adalah jalan kepada sang Realitas Agung, masing-masing memiliki jalan dan caranya sendiri-sendiri. Semua orang dari semua agama diharapkan mengakui kebenaran agamanya sebagai yang mutlak bagi dirinya sendiri, namun relatif bagi agama lain. Begitu juga, kebenaran dan keselamatan agama lain adalah mutlak bagi pemeluknya, namun relatif bagi agama kita. Seperti Kristus adalah penyataan Allah yang final, jalan keselamatan yang mutlak hanya bagi orang Kristen; Buddha adalah kebenaran dan jalan yang mutlak bagi orang-orang Buddhis; dan Krisna atau Rama adalah kebenaran final bagi orang-orang Hindu. Namun semua agama ini memiliki satu Pencipta dan sumber keselamatan yang sama yakni Allah. Pluralisme mengakui bahwa semua manusia diselamatkan oleh anugerah Allah. Anugerah Allah tidak mungkin menyediakan neraka bagi manusia.  Anugerah Allah adalah syarat mutlak. Karena itu, semua agama telah memiliki jalan keselamatan masing-masing. Semua agama adalah jalan menuju kepada Realitas Tertinggi, dengan caranya masing-masing. (Theologia Abu-Abu, hal. 224-225).

Dan dengan demikian Yesus bukan lagi satu-satunya jalan keselamatan seperti yang dipercaya oleh kekristenan ortodoks. Atau bahkan pengorbanan Yesus dan iman kepada-Nya menjadi sesuatu yang tidak diperlukan.

Olaf Schumman - Yang terutama bagi manusia ialah menunjukkan sikap imannya kepada Allah. Contohnya Abraham, tidak seorang pun yang dapat mengenal agama yang dipeluk oleh Abraham. Semua orang dapat berhubungan langsung dengan Allah tanpa harus percaya kepada Yesus, karena Allahlah yang menjadi pusat semua agama. (Pemikiran Agama Dalam Tantangan; Jakarta, Gramedia, 1980, hal. 57-58). 

Thong KS - Untuk minta ampun atas dosa, kita tidak memerlukan kuasa Yesus, kita sendiri bisa melakukan langsung. Di Alkitab ada juga tertulis; kalau kita mengampuni dosa orang lain terhadap kita maka Allah akan mengampuni dosa kita secara otomatis. Tidak perlu kuasa apalagi pengorbanan Yesus. Ini kata Alkitab lho... (Forum Diskusi STT Jakarta; www.sttjakarta.ac.id; tanggal 10 September 2005).


Inilah ajaran pluralisme agama. Dan ajaran ini telah merasuk banyak orang Kristen terutama para pendeta, guru-guru agama Kristen, dosen-dosen sekolah teologia sehingga mereka sudah tidak percaya bahwa Yesus Kristus satu-satunya jalan keselamatan.

Lalu bagaimana mereka menanggapi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan seperti ayat terkenal Yoh 14:6? Setahu saya ada 2 cara yang mereka lakukan : 

a. Menafsir ulang ayat itu sehingga artinya menjadi lain dari yang seharusnya


Contoh untuk ini dilakukan Pdt. Dr. Budyanto yang adalah pendeta GKJW yang pernah  menjabat Dekan Fakultas Teologi Universitas Duta Wacana, Yogyakarta. 

Pdt. Dr. Budyanto  - Amanat Agung Yesus Kristus ini biasanya dipahami sebagai perintah untuk mengabarkan Injil, dalam arti sempit mengkristenkan umat lain, bahkan lebih sempit lagi menjadikan orang lain menjadi warga gereja tertentu. Pandangan ini biasanya disertai dengan keyakinan, bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus dan di luar Yesus Kristus manusia akan binasa, seperti yang terdapat dalam Yohanes 14:6: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Dua ayat inilah yang membuat gereja sangat bersikap eksklusif dan merasa diri sebagai umat pilihan Allah. Yang lebih benar, lebih baik dari umat lain. Pemahaman ini akan membuat gereja kesulitan dalam menjalankan tugas panggilannya di dunia ini. Karena itu ayat ini perlu mendapat penjelasan ulang......Yohanes 14:6 : Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’ Ayat inilah yang sering dipakai oleh kelompok Kristen eksklusif sebagai dasar pemutlakan Yesus, bahkan pemutlakan agama Kristen, bahwa tidak ada jalan lain menuju Bapa kalau tidak lewat Yesus Kristus atau bahkan kalau tidak lewat gereja. ….Mungkin lebih cocok dengan tafsiran Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen, Yesus Kristus memang Juruselamat namun orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juruselamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, seperti yang dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen-pun dikenal banyak jalan menuju keselamatan. Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara hurufiah artinya berjalan. …Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju mokhsa, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana Marga atau jalan pengetahuan, Karma Marga atau jalan perbuatan baik, serta Bhakti Marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhamapada, jalan kebenaran menuju nirwana. Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan? …Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhamapada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, … Juga tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat ‘Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ harus ditafsirkan? … Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. .... Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedangkan di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama. Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama-agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. (Pemikiran Ulang Amanah Agung Yesus Kristus (Mat 28:19-20); Majalah DUTA; Bulan April 2000, hal 8-9).
 

b. Menganggap bahwa ayat tersebut palsu / salah. 


Contoh untuk ini dilakukan oleh Pdt. Ioanes Rakhmat di mana ia menulis tentang 20 hal yang tidak pernah direncanakan, dipikirkan dan diduga oleh Yesus dari Nazaret. Saya kutipkan beberapa saja : 

Dr. Ioanes Rakhmat
- Yesus dari Nazareth semasa hidupnya tidak pernah berpikir atau merasa bahwa ia akan menjadi juruselamat satu-satunya bagi dunia; Yesus dari Nazareth semasa hidupnya tidak pernah berpikir atau menduga-duga bahwa ia akan disembah sebagai Tuhan oleh orang-orang Kristen dalam ibadah-ibadah liturgis gereja; Yesus dari Nazareth semasa hidupnya tidak pernah berpikir bahwa ia akan menjadi isi pemberitaan/kerugma gereja yang disebarkan ke seluruh dunia yang menuntut orang pindah agama masuk Kristen jika ingin selamat; Yesus dari Nazareth semasa hidupnya tidak pernah berpikir atau merencanakan bahwa seluruh dunia akan bertobat, datang kepadanya, menyembah dan memuliakannya sebagai Allah, melalui misi evangelisasi gereja; Yesus dari Nazareth semasa hidupnya tidak pernah berpikir atau memperkirakan bahwa akan ada suatu ajaran tentang dirinya yang menegaskan bahwa jika orang tidak percaya kepadanya sebagai juruselamat, orang akan binasa, mati, dan mengalami hukuman di neraka…”  (Forum Diskusi STT Jakarta : www.sttjakarta.ac.id)


Kalau memang Yesus tidak pernah berpikir, menduga dan merasa / mengajarkan seperti di atas, lalu dari mana datangnya semua ajaran tersebut? 

Dr. Ioanes Rakhmat - Jika 20 point di atas bukan berasal dari Yesus, lalu dari mana datangnya? Jawabnya sangat mudah: semuanya itu adalah ciptaan gereja-gereja Kristen perdana dan di sepanjang perjalanan sejarah dunia, sesudah Yesus dari Nazareth wafat! Gereja-gereja Kristen di dunia ini hidup lebih banyak bergantung pada ajaran-ajaran mereka sendiri, ketimbang pada pandangan-pandangan Yesus dari Nazareth sendiri. (Forum Diskusi STT Jakarta : www.sttjakarta.ac.id)


Dengan demikian menurut Ioanes Rakhmat kepercayaan bahwa Yesus satu-satunya jalan keselamatan dan di luar Yesus tidak ada keselamatan berdasarkan Yoh 14 :6 adalah karangan gereja perdana dan tidak pernah diajarkan oleh Yesus. Simak kata-kata Ioanes Rakhmat dari sumber yang sama :

Dr. Ioanes Rakhmat - Yesus dari Nazareth tidak pernah mengatakan kalimat-kalimat dalam Yohanes 14:6. Mazhab penghasil Injil inilah yang mengucapkannya, dengan menempatkannya pada mulut Yesus versi mazhab ini. Kalaupun Yesus dari Nazareth pernah mengucapkannya, jelas Yesus telah salah besar. Yesus menurut Markus, Matius dan Lukas tidak sekali pun berkata-kata seperti Yohanes 14:6. Teks Yohanes 14:6 adalah suatu kesalahan besar dari kekristenan perdana. Teks ini tidak perlu dipakai lagi, karena salah dan menyesatkan, baik ketika teks ini dulu ditulis maupun untuk zaman sekarang. Teks ini juga yang telah membuat kekristenan menjadi garang; padahal beragama itu tidak boleh garang’. (Forum Diskusi STT Jakarta : www.sttjakarta.ac.id) 

Dr. Ioanes Rakhmat - Ketika mazhab Yohanes (akhir abad perdana) berhadapan dengan Yudaisme formal, dan menganulir keabsahan Yudaisme formal sebagai Jalan Tuhan antara lain melalui teks Yohanes 14:6, Yudaisme formal dengan Tauratnya dan orang-orang sucinya (Musa dan Abraham) tetap diterima dan diakui orang-orang Yahudi sebagai jalan-jalan keselamatan. Teks Yoh. 14:6 tidak bisa menganulir agama Yahudi; teks ini keliru ditulis. Apalagi kalau dihadapkan pada agama-agama lain yang tidak dikenal mazhab Yohanes (misalnya Buddhisme, Hinduisme, Islam, dll.), jelas Yoh. 14:6 sangat keliru dan sangat tidak relevan. Mazhab Yohanes tidak tahu agama-agama lain yang kita kenal sekarang; jadi, mazhab ini tidak bisa menganulir agama-agama lain itu apriori melalui Yoh. 14:6. Teks eksklusif ini sudah salah pada zaman penulisannya; apalagi untuk zaman-zaman lainnya yang tidak dialami mazhab Yohanes. Masukkan saja teks ini ke gudang museum agama. Jika ini dilakukan, salah satu sumber kegarangan Kristen berkurang satu. 'Kan lumayan. (Forum Diskusi STT Jakarta : www.sttjakarta.ac.id)


Jikalau Pdt. Dr. Budyanto menolak Yesus sebagai satu-satunya jalan dengan asumsi bahwa orang Kristen telah salah menafsir Yoh 14:6 maka Ioanes Rakhmat bergerak lebih jauh dengan mengatakan bahwa Yoh 14:6 itu tidak pernah diucapkan oleh Yesus bahkan seandainya Yesus pernah mengucapkannya maka jelas Yesus telah salah besar. Pertanyaan kita adalah siapakah Ioanes Rakhmat ini sehingga ia berani mengatakan bahwa Yoh 14:6 itu palsu? Siapakah Ioanes Rakhmat ini sehingga berani menyalahkan Yesus?

Selain menolak Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan, para penganut paham pluralisme ini juga begitu merendahkan Yesus. Minimal terlihat dari kata-kata Ioanes Rakhmat. 

Dr. Ioanes Rakhmat - Yesus itu setara dengan tokoh-tokoh dunia dan nasional seperti Kresna, Buddha, Muhammad, Fransiscus Asisi, Gandhi, ibu Teresa, Kagawa, Panglima Sudirman, Ade Irma Suryani Nasution, dll. Atau dapat dikatakan ia hanyalah seorang pejuang sosial yang sama dengan para mahasiswa yang demo di Jakarta menuntut reformasi. (Serba-Serbi Doktrin : Yesus Satu-Satunya Jalan; Forum Elektronika Cyber GKI).


Dr. Ioanes Rakhmat - Pangeran Siddhartha Gautama telah mengalami penderitaan berat jauh sebelum Yesus lahir. Penyangkalan diri Gautama jauh lebih berat dan lebih dalam jika dibandingkan dengan penyangkalan diri Yesus. Gautama pertama-tama sudah harus meninggalkan kemewahan kerajaan dan keluarganya sendiri. Lalu, sekian tahun harus dilewatinya dalam penderitaan dan kesendirian yang menakutkan ketika ia harus bersemedi untuk memperoleh penerangan budhi. Apakah dalam semua hal ini, Gautama tidak melebihi Yesus? Ini semua bukankah membuktikan bahwa Gautama juga layak disebut sebagai Jalan keselamatan…” Sejak dilahirkan di Nazareth (bukan di Betlehem), Yesus sudah hidup miskin. Dan ia bersama keluarganya sudah biasa miskin; dan kemiskinan bukan sesuatu yang sangat menimbulkan derita batin buat mereka. Ketika ia ditangkap lalu disalibkan, penderitaan yang dialami Yesus tidak lama. Lain halnya dengan Sidhartha, yang harus meninggalkan kemegahan kerajaan, melupakan keluarganya, dan masuk ke dalam kehidupan derita tapa brata untuk menemukan jalan-jalan pelepasan dari dukkha. Ini lama berlangsungnya. Ini menurut legenda. Barangkali memang harus kita katakan, Sidhartha lebih menderita dari Yesus. (Forum Diskusi STT Jakarta; www.sttjakarta.ac.id; tanggal 23 Agustus 2005).

Inilah pluralisme agama, sebuah ajaran yang mencoba meruntuhkan doktrin ortodoks Kristen dengan menerima adanya keragaman unsur kebenaran dan keselamatan dalam setiap agama sambil mengutuk kepercayaan eksklusif Kristiani bahwa Yesus satu-satunya jalan keselamatan. Yang patut disayangkan adalah bahwa penolakan terhadap Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan bukan datang dari orang-orang non Kristen, bukan datang dari musuh-musuh Kristen tetapi justru datang dari para pendeta, para teolog Kristen, pemimpin-pemimpin kita sendiri yang katanya percaya dan sementara melayani Yesus Kristus.

II. TANGGAPAN TERHADAP PAHAM PLURALISME AGAMA.

Setelah memaparkan apa yang diajarkan paham pluralisme agama, sekarang saya akan memberikan tanggapan terhadap paham ini dan tanggapan ini bersifat filosofis / logika dan juga bersifat teologis / alkitabiah.  Ada beberapa hal yang akan saya tanggapi :

a. Tentang tidak ada kebenaran yang mutlak.

Paham pluralisme mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, termasuk agama dan iman kita. Yang mutlak hanya Allah. Dan karenanya kita tidak boleh menganggap apa yang kita percaya sebagai yang paling benar sedangkan apa yang dipercaya orang lain sebagai salah / sesat.

Benarkah tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini? Kalau begitu kita bertanya : apakah pandangan pluralisme ini mutlak benar atau tidak? Apakah pandangan yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak itu mutlak benar atau tidak? Kalau para penganut ajaran pluralisme ini menganggap bahwa pandangan mereka mutlak benar maka apa yang mereka katakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini menjadi salah. Tapi kalau mereka menganggap bahwa ajaran mereka pun tidak mutlak benar, lalu mengapa kita harus percaya pada ajaran mereka? Bukankah mereka mengatakan bahwa karena tidak ada kebenaran mutlak maka kita tidak boleh menyalahkan orang lain? Lalu mengapa mereka menyalahkan orang lain yang beranggapan bahwa kebenaran itu mutlak? Di sini terlihat bahwa teori kaum pluralis cacat logika. Mereka tidak konsisten dengan apa yang mereka teorikan.

Dr. Anis Malik Toha seorang cendikiawan Muslim dan dosen per-bandingan agama dari International Islamic University Malaysia (IIUM) ketika diwawancarai oleh peneliti INSIST, Henri Shalahuddin pada rabu, 26 Maret 2003 tentang pluralisme agama, berpendapat : 

Dr. Anis Malik Toha - Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena menafikan kebenaran ekslusif sebuah agama. Mereka menafikan klaim 'paling benar sendiri' dalam suatu agama tertentu, tapi justru pada kenyataannya kelompok pluralislah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statement keagamaan (Inilah Agama Baru, hal. 2).
 

Dr. Anis Malik Toha -  Mereka merelatifkan tuhan-tuhan yang di-anggap absolute oleh kelompok-kelompok lain seperti Allah, Trinitas, Yahweh, Trimurti, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga mengklaim bahwa hanya tuhan mereka sendiri yang absolute. Tuhan yang absolute menurut mereka ini namanya, seperti yang diusulkan John Hick, adalah 'The Real' …. Nah menurutnya, nama-nama Tuhan dalam berbagai agama hanyalah sebagai manifestasi dari 'The Real' ini. Oleh karena itu, semua orang harus mengimani tuhannya John Hick ini. Jadi pada hakikatnya, tanpa sadar mereka telah membangun absolutismenya sendiri.…. Jadi pemikiran pluralisme agama itu sangat sarat dengan self-inconsistent. (Inilah Agama Baru, hal. 2).


Dr. Anis Malik Toha - Pluralisme agama adalah agama baru, di mana sebagai agama dia punya tuhan sendiri, nabi, kitab suci dan ritual keagamaan sendiri. Sebagaimana humanisme juga merupakan agama, dan tuhannya adalah nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang dikatakan August Comte. Dan dalam hal ini John Dewey (seorang filosof Amerika) mengatakan demokrasi adalah agama dan tuhannya adalah nilai-nilai demokrasi. (Inilah Agama Baru, hal. 2).

Benar!  Pluralisme agama ini adalah ‘agama baru’ dan ‘agama baru’ ini menentang klaim ‘paling benar’ dari setiap agama namun pada saat yang sama mengklaim dirinya paling benar. ‘Agama baru’ ini menganggap semua agama sama benarnya tapi pada saat yang sama menganggap diri paling benar dan keyakinan ‘paling benar’ dalam setiap agama disalahkan. Sungguh sebuah inkonsistensi bukan?

Mengatakan bahwa dalam dunia ini ada yang mutlak tidak berarti mengatakan bahwa Allah bukan satu-satunya Yang Mutlak. Allah adalah Yang Mutlak dan karenanya setiap kehendak dan tindakan Allah adalah mutlak. Jika Allah mengatakan sesuatu maka itu pasti mutlak. Jika Allah mewahyukan sesuatu maka itu pasti mutlak. Karena Allah pernah menyatakan Firman-Nya dan wahyu-Nya kepada dunia maka Firman-Nya dan wahyu-Nya yang ada dalam dunia ini haruslah bersifat mutlak. Kebenaran-Nya yang ada dalam dunia haruslah mutlak. Bagaimana mungkin lahir yang tidak mutlak dari Yang Mutlak? Dengan demikian dalam dunia ini ada yang mutlak yaitu Firman Allah, wahyu Allah atau kebenaran Allah. 

2 Sam 7:28 - Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
 

Maz 119:160 - Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya. Yoh 17:17 - Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Yoh 14:6 - Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.  

Pendapat kaum pluralis yang mengatakan bahwa tidak ada yang mutlak di dunia ini dan karenanya kita tidak bisa memaksakan keyakinan/iman kita pada penganut agama lain haruslah dipikirkan lebih dalam. Memang kita tidak boleh memaksakan keyakinan kita kepada orang lain tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengatakan bahwa suatu keyakinan adalah keliru/sesat. Misalnya si A yakin bahwa : 1 + 1 = 2 tetapi si B yakin bahwa 1 + 1 = 3. Jika ini yang terjadi maka si A harus berani untuk mengatakan bahwa keyakinan si B itu tidak benar/salah bukan hanya karena menurut si A : si B itu salah tetapi karena si B memang salah. Mengapa si A bisa mengatakan bahwa keyakinan si B salah? Karena ada suatu kebenaran yang mutlak dan obyektif dan kebenaran yang mutlak dan obyektif itu mengatakan bahwa 1 + 1 = 2. 


Bahwa Allah telah menyatakan wahyu dan kebenaran-Nya maka kita harus dapat menerima bahwa itu bersifat mutlak dan dengan kebenaran yang mutlak inilah kita dapat menilai suatu ajaran, suatu keyakinan atau suatu agama itu benar atau tidak. Kita memang tidak boleh memaksakan keyakinan kita kepada orang lain tetapi mengatakan bahwa keyakinan orang lain mungkin saja keliru/salah tidaklah salah karena kita mendasarkan penilaian itu pada suatu kebenaran mutlak yang diturunkan oleh Allah Yang Mutlak. 

b. Tentang semua agama sama-sama benar.


Pandangan bahwa semua agama sama benar juga tidak bisa dibenarkan secara logika. Persoalannya adalah klaim agama-agama itu bukan hanya berbeda tetapi juga bertentangan. Nah, jika 2 agama mempunyai klaim yang saling bertentangan, bagaimana kita bisa menganggap bahwa 2 agama itu sama-sama benar pada saat yang sama?

R.C. Sproul - Bagaimana mungkin Budhisme benar jika ia menyangkal adanya Allah yang bersifat pribadi dan pada saat yang bersamaan Kekristenan juga benar padahal Kekristenan menegaskan adanya Allah yang bersifat pribadi ? Mungkinkah ada Allah yang bersifat pribadi dan Allah yang tidak bersifat pribadi pada saat yang sama dalam hubungan yang sama ? Mungkinkah Yudaisme Ortodoks yang menyangkal hidup setelah kematian benar dan Kekristenan yang menyatakan adanya hidup setelah kematian juga benar ? Mungkinkah agama Islam klasik yang mendukung pembunuhan orang kafir memiliki etika yang benar dan pada saat yang bersamaan etika Kristen untuk mengasihi musuh juga sama benarnya?’ (Mengapa Percaya , hal. 29). 

R.C. Sproul
- ‘Hanya ada 2 cara untuk mempertahankan absahnya semua agama. Pertama, dengan mengabaikan kontradiksi yang jelas antara agama-agama tersebut dan bersikap tidak rasional; kedua, dengan menganggap kontradiksi yang ada sebagai masalah yang tidak penting. Pendekatan yang kedua melibatkan kita dengan proses reduksionisme yang sistematis. Reduksionisme menghilangkan dari masing-masing agama unsur-unsur yang dianggap vital oleh para pengikut agama itu sendiri dan mengurangi nilai agama menuju persamaan yang bersifat umum. Perbedaan antar agama dikaburkan dan diperlemah untuk mendukung terjadinya perdamaian dalam agama”. (Mengapa Percaya , hal. 30).


Hukum non kontradiksi menyatakan bahwa “tak ada satu hal pun yang bisa ada dan sekaligus tidak ada pada saat yang sama dalam hal yang sama”. Hukum ini juga mengajarkan bahwa “tidak ada satu hal pun yang bisa menjadi apa yang bukan dirinya”.  Misalnya, Yesus tidak mungkin tanpa dosa sekaligus berdosa. Atau Allah tidak mungkin hanya satu sekaligus lebih dari satu. Padahal bukankah klaim-klaim agama berisi pertentangan-pertentangan semacam ini? Mana mungkin pandangan Budha bahwa Allah tidak berpribadi dan pandangan Kirsten bahwa Allah berpribadi bisa sama-sama benar dalam waktu yang sama? Mana mungkin pendapat yang mengatakan “tidak ada kebangkitan orang mati” dan pendapat yang mengatakan “ada kebangkitan orang mati” bisa sama-sama benar? Tidak bisa! Salah satu harus benar dan salah satu harus salah karena ini adalah PERTENTANGAN bukan PERBEDAAN. 

Suryadi Wijaya - Mempercayai bahwa kedua agama yang saling berlawanan adalah benar sama seperti berkata "2+2=4 atau 5 atau 37, terserah Anda." Terus-menerus memercayai semua agama, itu sama dengan melawan diri sendiri. Seseorang tidak dapat menerima kepercayaan Hindu dengan 300.000 dewanya dan menerima kepercayaan Muslim dengan hanya satu Allah secara bersamaan. Orang juga tidak dapat memeluk Hindu atau Judaism bersama dengan Buddha karena Buddha tidak percaya Allah sama sekali. Atau bandingkan opini-opini agama mengenai kehidupan setelah kematian. Agama Shinto menyatakan tidak ada kehidupan setelah kematian, hanya ada di sini dan sekarang, maka hiduplah sekarang. Agama Buddha mencari Nirvana, di mana sama sekali tidak ada nafsu. Sebaliknya, kekristenan mengajarkan bahwa surga adalah tempat di mana semua keinginan murni dipenuhi di hadapan Yesus Kristus (Wahyu 22:4). Lalu, mana yang benar? Tidak mungkin semuanya benar. (Christianity Confronts Pluralism, hal. 10).


Inilah bukti bahwa pandangan pluralis yang menganggap bahwa semua agama sama benarnya, sama absahnya adalah pandangan yang kontradiktif dan tidak konsisten serta cacat logika.

****** 

Sekarang kita akan melihat pada Alkitab. Jikalau paham pluralisme seperti yang diajarkan Hick melalui revolusi Copernicus benar, maka tentu saja Allah yang oleh Hick disebut sebagai “The Real” yang disembah oleh semua agama itu adalah pribadi yang sama. Dengan kata lain tidak ada agama yang menyembah kepada yang bukan Allah yang esa itu. Kalau itu benar maka hukum pertama dan kedua dari 10 hukum menjadi tidak relevan lagi.


Kel 20:3-5 – (3) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku

Hukum ini barulah relevan jika memang ada penyembahan-penyembahan atau agama-agama yang tidak menyembah Allah yang benar tetapi allah lain, allah yang palsu. Selain itu perlu juga kita ketahui bahwa pada zaman PL keberagaman agama sudah ada dan umat Allah hidup dalam kondisi pluralitas seperti itu. Mereka senantiasa dikelilingi oleh bangsa-bangsa kafir dengan sistem agama dan penyembahannya sendiri. Tapi berbeda dengan paham pluralisme, Allah maupun para nabinya justru melarang dan mengecam umat Allah terlibat di dalam agama-agama kafir itu. Yosua menantang umat Tuhan untuk memilih :

Yos 24:15 - Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" 

Demikian juga Elia menegur dan menantang umat Israel untuk memilih kepada siapa mereka mau beribadah.

1 Raj 18:21 - Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun’. 

Jikalau semua agama sama benarnya, untuk apa Yosua dan Elia menantang umat Tuhan untuk memilih kepada siapa mereka menyembah / beribadah? Bukankah kalau paham pluralisme benar maka menyembah kepada Yahweh dan menyembah kepada yang lain sama saja? Sama-sama benar dan sama-sama akan diselamatkan? Hal yang sama juga berlaku di PB. Jemaat Kristen pertama hidup di kota-kota kosmopolitan seperti Antiokhia, Korintus dan Roma, dan di persimpangan pertukaran budaya. Ini berarti mereka dikelilingi ajaran-ajaran lain tetapi mereka ternyata memilih untuk percaya hanya kepada Yesus.

Suryadi Wijaya  - Mereka bukan menjadi Kristen karena tidak pernah mendengar yang lainnya. Sebaliknya, mereka beralih dari agama-agama yang lain menjadi Kristen. Saat berkata, "Yesuslah satu-satunya jalan," mereka tahu apa saja jalan yang lain itu: Yudaisme, agama mistis timur, agama kekaisaran Romawi, dan berbagai sekolah filosofi Yunani. (Christianity Confronts Pluralism, hal. 11).

Demikian juga para Rasul dengan tegas memberitakan tentang Yesus kepada masyarakat yang sudah beragama lain saat itu.

Kis 17:18  - Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" Tetapi yang lain berkata: "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing." Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya’. 

Jikalau semua agama sama benarnya dan sama-sama menyelamatkan maka adalah kebodohan untuk memilih Kristen atau memberitakan tentang Yesus di mana nyawa menjadi taruhannya. Jadi jelas bahwa Alkitab tidak menganggap bahwa semua agama / kepercayaan sama-sama benar. 

2 Kor 6:14-16 – (14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? …”


Semua hal ini menunjukkan bahwa ajaran pluralisme yang menganggap semua agama sama benarnya bertentangan dengan ajaran Alkitab tentang agama-agama / kepercayaan yang lain.  

c. Tentang adanya keselamatan dalam semua agama.

Paham pluralisme mengajarkan bahwa tanpa Yesus pun agama lain dapat diselamatkan. Bahkan untuk selamat jasa Yesus tidak dibutuhkan. Tapi ini berbeda dengan ajaran Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa tindakan Allah menyelamatkan dunia ini tidak bisa terlepas dari Kristus.

Rom 3:25 - Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. ….

Rom 5:8-10 – (8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (9) Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diper-damaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! 

2 Kor 5:18-19 – (18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah memper-cayakan berita pendamaian itu kepada kami. 

Itu berarti ajaran pluralisme yang menolak Kristus dan jasa-Nya dalam keselamatan manusia sama sekali bertentangan dengan ajaran Alkitab.

Kesimpulan :

Dari apa yang sudah dipaparkan di atas terlihat bahwa ajaran pluralisme adalah ajaran yang bukan saja cacat secara logika tetapi juga bertentangan dengan kesaksian Alkitab. Dilihat dari latar belakang munculnya paham ini yakni adanya upaya untuk menciptakan perdamaian antar agama yang lalu ditempuh dengan cara membuang klaim ekskulsif Kristen dan finalitas Kristus maka dapat dikatakan bahwa paham pluralisme ini sementara mengorbankan kebenaran demi terjadinya perdamaian. Mereka lupa bahwa Alkitab mengajarkan kalau dalam urusan kebenaran, perdamaian harus dikorbankan dan bukan sebaliknya. Itulah sebabnya Yesus berkata : 

Mat 10:34-36 – (34) "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.


Bandingkan :

Yak 3:17 - Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. 

Terlihat bahwa kemurnian didahulukan daripada damai. Ini tidak boleh dibalik. Tapi itulah yang dilakukan kaum pluralis. Mereka memperjuangkan perdamaian tetapi mengorbankan kebenaran. Dan karena ini menyangkut ajaran dasar kekristenan tentang keselamatan maka dapat dikatakan bahwa ajaran pluralisme ini adalah ajaran sesat dan karenanya semua orang terutama pendeta-pendeta dan pengajar-pengajar teologia yang berpaham pluralisme harus dianggap sebagai penyesat, nabi palsu atau guru-guru palsu. Siapapun yang mengikuti mereka, mendukung mereka, membela mereka, maka ia sedang mengikuti, mendukung dan membela kesesatan dan nabi palsu. Rasul Petrus  menulis :

2 Pet 2:1-2 – (1) Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. (2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.

Berhati-hatilah supaya saudara tidak termasuk di dalamnya ! 

AMIN